Saatnya HATI NURANI bicara


Islam dan Politik Perempuan: Meretas Kemandirian Politik Perempuan Perspektif Islam by ratna ariani
August 1, 2008, 8:38 am
Filed under: artikel, politik | Tags: , , , , , , ,

Bangka Pos – edisi: Jum’at, 01 Agustus 2008 WIB – Penulis: Oleh: Wulpiah
Masalah perempuan dan politik di Indonesia terhimpun sedikitnya dalam empat isu: keterwakilan perempuan yang sangat rendah di ruang publik; komitmen partai politik yang belum sensitif gender sehingga kurang memberikan akses memadai bagi kepentingan perempuan; dan kendala nilai-nilai budaya dan interpretasi ajaran agama yang bias gender dan bias nilai-nilai patriarki. Dan minat/hasrat/ animo para perempuan untuk terjun dalam kancah politik rendah; tapi untuk yang terakhir ini perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam. Sepertinya isu terkait keterlibatan perempuan dalam politik sekarang sudah dimulai, mengingat sudah dibukanya pencalonan anggota legeslatif untuk tahun 2009 dan pencalonan anggota DPD RI daerah pemilihan Bangka Belitung. Namun pada level nasional juga lokal, persoalannya adalah sulitnya mencari sang perempuan untuk dicalonkan. Pertanyaannya sejauh mana keikutsertaan para perempuan dalam kompetisi ini?

Secara khusus, hak politik perempuan dalam DUHAM (Deklarasi Universitas Hak Asasi Manusia) tertuang dalam pasal 2: “setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Deklarasi ini tanpa perkecualian apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang berlainan, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran, ataupun kedudukan lain.” Hak politik perempuan dinyatakan pula secara lebih rinci dalam Konvenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik pasal 25 dan 26. Konvenan ini telah diratifikasi pemerintah Indonesia melalui UU No.12 Tahun 2005. Continue reading



Hari Anak Nasional: Anak Siapa? by ratna ariani
July 25, 2008, 5:56 pm
Filed under: pendidikan, politik | Tags: , , , , , ,

Membaca kisah Amri (foto dari Kompas ) di Hari Anak Nasional, kita seharusnya malu dan harus memeriksa diri sendiri. Di kota Jakarta yang nomor 2 paling tinggi biaya hidupnya di Asean, masih menyimpan ratusan ribu anak-anak terlantar. Sudah sejauh manakah kita ambil bagian dalam memberikan hak dasar kepada anak, terutama kepada anak-anakdisekitar kita, yang bukan anak kita sendiri.

Tidak banyak anak yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan gizi cukup, apalagi pendidikan yang sejalan dan bermutu bagi usia mereka. Kalau saja setiap keluarga yang mampu mengadopsi atau mengambil bagian dalam program anak asuh yang ada disekitar kita,maka bisa dibayangkan bisa ada ribuan anak yang tertolong. Jangan kita berhenti pada ‘sedih dan marah’ membaca artikel ini, tapi tidakbertindak apa-apa. Besok pasti lupa, karena headline di koran akan berganti lagi. Mungkin dengan liputan pesta pernikahan yang bermilyard-milyard itu. Satu tindakan dan langkah kecil tapi yang dilakukan oleh banyak orang tentu akan membawa efekpelipatgandaan yang luar biasa. Apalagi kalau didukung program CSR (Corporate Social Responsibility) yang terpadu, wah rasanya beban berat terasa ringan dijinjing. Continue reading