Saatnya HATI NURANI bicara


Adalah Kemiskinan (Gadis Arivia) by ratna ariani
August 25, 2008, 11:41 pm
Filed under: puisi | Tags: , , ,

Kemiskinan adalah ramai-ramai menyaleg demi kekuasaan dan kekuasaan
Kemiskinan adalah mengobral Tuhan demi mengakumulasi kursi
Kemiskinan adalah menguasai partai turun temurun pesta pora sanak famili
Kemiskinan adalah membusungkan umur yang muda dengan sokongan dana lumpur yang tua
Kemiskinan adalah mencoblos jendral bersenjata berkedok hati nurani rakyat
Kemiskinan adalah amnesia pada orde penindas mengusung beringin yang sama pula
Kemiskinan adalah mengumbar jargon lokal karena defisit akal
Kemiskinan adalah menolak spirit kapital demi wacana sok sosial
Kemiskinan adalah nasionalisme picik kedunguan pengetahuan global
Kemiskinan adalah belenggu agama mematikan denyut nadi kemanusiaan
Kemiskinan adalah mental korup di segala penjuru nusantara
Kemiskinan adalah jual perempuan ke Saudi demi sesuap nasi
Kemiskinan adalah pilihan anak bunuh diri ketimbang hidup di Indonesia.



Mamaku Sayang by ratna ariani
August 21, 2008, 5:42 am
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Kadang uang mengalahkan semuanya, semua yang ada di hidup kita dengan dalih memenuhi kebutuhan hidup.Tahu kah anda saat kita tua dan pensiun atau saat kita meninggal, perusahaan memiliki ratusan, bahkan ribuan orang untuk menggantikan kita. Tapi sadarkan kita, tidak ada satu pun yang bisa menggantikan kita di hati, pikiran dan ingatan anak kita tercinta yang ada di rumah.SUDAHKAH KITA MEMIKIRKANNYA?  – Source Unknown

Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.
Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem.
Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.
Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya.
Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa
dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.
Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma.
Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku.Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja.
Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?
Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan.
Padahal kata mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan?
Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget
kan katanya kalo diaduin sama mama dia mau berhenti kerja.
Kalo dia berhenti berarti nanti mama repot ya?
Continue reading



Mengais Sisa Beras by ratna ariani
August 11, 2008, 3:56 pm
Filed under: Uncategorized | Tags: , , ,

Orang dewasa bahkan anak-anak bisa mati di lumbung beras kalau begini caranya. Mati terserempet truk beras atau mati kelaparan karena tiada makanan untuk pengganjal perut. Ironisnya para warga yang hidup dari butiran-butiran beras yang begitu bernilai seperti mutiara ditangan mereka ini, tinggal di sekitar gudang beras di Ibu kota yang masuk urutan kedua termahal di Asia.(RA)

SUARA PEMBARUAN DAILY – Pagi-pagi buta, di kala sebagian besar warga Jakarta tidur nyenyak, di sebuah rumah petak berukuran 3×3 meter di dekat Pasar Induk Cipinang (PIC) Jakarta Timur, kesibukan mulai terlihat. Maklum, semua penghuninya yang terdiri dari seorang Ibu bernama Teti dan tujuh orang anaknya mulai bergegas menjalani aktivitas keseharian.
Kamal (12 tahun), anak kelima juga ikut bersiap-siap, bukan dengan pakaian seragam dan tas sekolah seperti anak sebayanya, tetapi dengan kantong plastik untuk mengais sisa-sisa beras di Pasar Induk.
Seperti jejak kakaknya yang lain, Kamal dalam usia yang masih belia harus putus sekolah, karena ketiadaan biaya. Dia pun, terpaksa bekerja memungut beras tumpahan yang melimpah dan berceceran di Pasar Induk Cipinang setiap hari. Di sanalah jadi lahan baginya bersama teman-temannya mengais rejeki. “Awalnya dia hanya ikut teman-teman sebayanya mencari beras. Tapi akhirnya kami sangat tergantung dengan beras yang dipungutnya setiap hari. Setidaknya beras yang dibawa anakku pulang bisa untuk makan kami sehari-hari dan sisa pungutan beras dijual ke tetangga Rp 4.000 per liter,” kata Teti.

Lumayan, untuk menambah pendapatan dari sang Ibu yang sehari-harinya memulung untuk membeli kebutuhan hidup lainnya. Sebenarnya, Teti kasihan melihat anaknya setiap hari dari pukul 04.30 WIB hingga siang hari harus mengais beras. Kadang, berlari mengejar mobil pengangkut beras dan berusaha melongok ke dalam bak, apakah ada tumpahan beras yang bisa mereka kumpulkan. “Berisiko memang, tetapi bisa melompat ke atas truk pengangkut dan mulai mengumpulkan butir demi butir beras sudah sangat menguntungkan, ” kata Teti. Continue reading