Saatnya HATI NURANI bicara


Alhamdulilah… Inoel ditemukan ! by ratna ariani
November 29, 2008, 3:10 pm
Filed under: artikel | Tags: , ,

Bandung – Setelah sembilan hari lamanya mahasiswa Planologi ITB Mizan Bustanul Fuady atau akrab dipanggil Inoel (21) hilang tanpa jejak, akhirnya hari ini, Sabtu (29/11/2008) Inoel ditemukan di Tasikmalaya. Namun belum didapatkan keterangan secara rinci apa yang dilakukan Inoel di Tasikmalaya.

Informasi ditemukannya Inoel disampaikan Kapolres Bandung Timur AKBP Martinus Sitompul Inoel. “Inoel sudah ditemukan, dia di Tasikmalaya,” ujar Martinus saat dihubungi melalui telepon selulernya, Sabtu (29/11/2008).

Ketika ditanya mengenai kondisi Inoel, Martinus mengatakan Inoel dalam kondisi baik dan sehat. Martinus tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai proses ditemukannya Inoel tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun detikbandung, Inoel saat ini tengah dalam perjalanan dari Tasikmalaya ke Bandung. Tempat yang akan didatangi Inoel pertama kali adalah Mapolres Bandung Timur, Jalan AH Nasution. [DETIKCOM]

Advertisements


Laws Against Torture Needed by ratna ariani
November 25, 2008, 7:47 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Kekerasan demi kekerasan ada disekitar kita, tawuran mahasiswa, kebrutalan para pendukung yang kalah dalam pilkada, bahkan di lingkungan yang seharusnya memberikan rasa aman tetap saja bahasanya “kekerasan”. Kasus ini sudah terjadi lebih dari setahun lalu, dan seperti kasus kekerasan lainnya yang berjuang demiĀ  hak warga negara demi rasa aman layaknya menembus awan. Terbang entah sampai kemana. Berbagai produk UU seperti UU Perlindungan Saksi dan Korban pun tidak cukup menjamin amannya para aktivis HAM untuk bersuara. Kasus orang hilang bertambah lagi dengan hilangnya Inul, seorang aktivis yang mengadvokasi alih fungsi Babakan Siliwangi. Kita perlu merdeka bukan hanya dari penjajahan, tapi merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kekerasan dan merdeka untuk mendapatkan rasa aman dalam hidup bermasyarakat. [RA]

On Jan. 22, 2007, Hartoyo was at home with his partner, Bobby (not his real name), when two men forcibly entered his house and proceeded to vandalize his property before assaulting the two men. Hartoyo and Bobby were then dragged outside to a place where a crowd of around 15 people had gathered. They were subjected to beatings and verbal abuse. Hartoyo was ordered by the attackers to immediately vacate the boarding house. The attackers then informed the local police authorities.

The two victims were taken by four police officers to the Banda Raya Police Station where they were made to strip down to their underwear and were viciously beaten and verbally abused by the officers. The police officers later sexually abused Hartoyo and then forced his partner to perform oral sex on him. The two were then dragged to the police station courtyard where officers sprayed them with ice-cold water.

The police also forced Bobby to urinate on Hartoyo’s head. Hartoyo and his partner were then taken to a police lockup, where they were held until morning.

This ruthless, inhuman and barbaric torture has been a cavernous trauma for Hartoyo. Furthermore, this abysmal event scars Indonesia’s face of humanity.

More than a year later, in October 2008, the case was finally tried by the Banda Aceh District Court. However, as the court regarded the torture merely as a minor offense, there was only one judge hearing the
case.

During the trial, the judge did not examine the acts of torture but rather focused on Hartoyo’s sexual orientation. The judge advised him to turn away from sin, giving the impression that it was permissible
for the perpetrators to beat and assault the victims because of their different sexual orientation.

In about 30 minutes, the judge had made his decision: The four perpetrators were sentenced to three months’ imprisonment with six months of probation and a fine of Rp 1,000.

Given that the case was tried as a minor offense, the verdict was final and binding — leaving no hope for the victim to appeal.

Hartoyo’s case is only one example of how the Indonesian legal apparatus treats this kind of torture. The court obviously treats the “common enemies of all mankind and all nations” nicely and inadequately
by ruling they only committed a minor offense. Continue reading



Ketua Himpunan Planologi ITB Hilang Sejak Kamis (20/11), Diculik? by ratna ariani
November 25, 2008, 4:23 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,
Semoga hilangnya Inul tidak ada hubungannya dengan advokasinya terhadap Babakan Siliwangi, dan semoga Inul lekas ditemukan dalam keadaan sehat walafiat. Pls fwd [RA]
Assalamu’alaikum wr wb

Teman-teman, saya memohon bantuannya. Adik saya, Mizan Bustanul Fuady (Inul/Inoel) , Planologi ITB 2005, Ketua Himpunan Mahasiswa Planologi (HMP) aktif, hilang sejak Kamis pagi. Hingga saat ini belum diketemukan. Kami sekeluarga telah meminta bantuan Polisi (Polresta Bandung) dan juga pihak ITB untuk pencarian ini. Jika ada yang tahu informasi keberadaannya atau menemukannya, mohon kami diberi tahu di +62-22-7201089, +81-80-3143- 9390 atau di e-mail ini. Dan mohon bagi yang tahu link yang bisa dimohonkan bantuannya, tolong diinformasikan. Kami dari pihak keluarga sangat memohon bantuan rekan-rekan sekalian.

1.Sudah 5 Hari Mahasiswa Planalogi ITB Hilang
Erna Mardiana – detikBandung/Senin, 24/11/2008 15:13 WIB

Bandung – Ketua Himpunan Mahasiswa Planologi (HMP) ITB Mizan Bustanul Fuady atau akrab dipanggil Inoel (21) hilang sejak Kamis, 20 November lalu. Inoel lenyap tanpa jejak saat pamit pada ibunya untuk belanja ke toko swalayan dekat rumahnya di Komplek Arcamanik Bandung.

Menurut penuturan ibunya, Ny Slamet Riyadi, Kamis pagi, Inoel sudah bangun pagi dan siap-siap untuk berangkat ke kampusnya ITB, Jalan Ganesha. “Dia minta uang Rp 150 ribu, katanya buat benerin kacamatanya,” tuturnya saat dihubungi detikbandung, Senin (24/11/2008).

Namun, lanjutnya, sekitar pukul 08.30 WIB, Inoel pamit untuk mampir ke Griya yang berada dekat rumah di Komplek Arcamanik. “Dia pakai celana pendek dan jalan kaki, jadi tidak langsung pergi ke kampus apalagi membetulkan kacamata, karena kalau iya harus pakai mobil,” tuturnya.

Namun, kata dia, setelah itu Inoel tak kembali pulang. Bahkan hingga hari ini, tak ada titik terang keberadaan mahasiswa planologi ITB 2005 ini. Continue reading