Saatnya HATI NURANI bicara


The MOM Song by ratna ariani
December 20, 2008, 12:01 am
Filed under: lagu favorit | Tags: , , ,

Menjelang Hari Ibu selayaknya kita memberikan penghargaan kepada para ibu yang telah bersusah payah mempertaruhkan nyawanya melahirkan kita, membesarkan kita sedari bayi sampai kita dewasa dan berani meninggalkan rumah. Melihat video di link dibawah ini mungkin kita bisa recall memory lagi tentang berbagai kebiasaan ibu saat kita kecil untuk mengingatkan segala sesuatunya. Its so funny, but its so true. Bahkan saya pun juga melakukannya pada anak-anak saya. But after all, dibalik itu semua kasih ibu yang tulus lah yang membuat kita kangen untuk selalu ingin pulang kerumah dan merasakan pelukannya yang hangat dan senyumnya yang meneduhkan. No words  needed. Tatapan mata ibu dan belaiannya cukup mampu menyembuhkan hati kita yang sedang terluka. Ibu lah tempat sekolah cinta kita pertama juga sekolah kita untuk belajar berbicara dan berbagi. Karena kasih ibu jugalah yang membawa dan mengantar kita sampai titik kehidupan kita saat ini. Berbahagialah mereka yang masih bisa bertemu ibunya dan berkata “Terimakasih ibu! Tx for being a mom to me”

I love you mom. I missed you a lot.



Sahabat Wanita by ratna ariani
December 14, 2008, 8:31 am
Filed under: artikel, keluarga | Tags: , , ,
10092008005Saya menerima email tentang pentingnya memiliki sahabat wanita bagi setiap perempuan. Saya bersyukur dikelilingi banyak sahabat wanita yang saya jumpai sejak masa kecil, saat sekolah dan kuliah bahkan sampai menikah dan bekerja; yang sampai sekarang masih menjalin hubungan lewat berbagai cara. Bapak Ibu sudah tidak ada, tx God for sending them around me, kita menangis dan tertawa sampai tumbuh besar dan menjadi tua bersama-sama. I praise Lord for the friendship ! (RA)
Pada suatu hari, seorang wanita muda yang baru saja menikah mengunjungi ibunya. Mereka duduk di sebuah sofa dan menikmati segelas air teh dingin.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang mengenai kehidupan, pernikahan, tanggung jawab dalam hidup serta kewajiban, sang ibu dengan perlahan menaruh sebongkah es batu ke dalam gelasnya dan menatap wajah anak perempuannya.

“Jangan lupakan sahabat-sahabat wanitamu.” nasihatnya, sambil mengaduk-ngaduk daun teh di bawah gelasnya.

“Mereka akan menjadi orang yang penting bagimu ketika usiamu makin tua. Tidak peduli seberapa dalam kau mencintai suamimu, seberapa banyak anak-anak yang kau miliki, kau masih tetap harus memiliki sahabat wanita. Ingatlah untuk berjalan-jalan bersama mereka, melakukan hal bersama-sama dengan mereka. Dan ingat bahwa mereka bukan hanya sekedar sahabat wanitamu, tetapi mereka akan menjadi saudara, anak dan yang lainnya. Kau akan membutuhkan sosok wanita yang lain. Wanita selalu begitu.” Continue reading


Kematian Ibu adalah Kemunduran Bangsa by ratna ariani
December 1, 2008, 12:11 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkan-nya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya?
Mencaci maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan-nya?
Meninggalkan-nya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberika n ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.

SADARILAH bahwa di Dunia ini ga da 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi…
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…
Kirimkan ke 10 orang agar IBU KITA PANJANG UMUR

Mungkin anda mendapat kiriman di atas baik di email, FS, FB dsb. Terkesan sederhana, tapi dalam maknanya bila kita sadar betapa banyaknya ibu-ibu di pedalaman Indonesia (terpaksa) mati karena minimnya sarana dan prasarana. Sudah miskin, mati pula. Lalu siapa yang akan mengurus anak-anaknya yang lain? Maka marilah kita saling mengupayakan apa yang terbaik di lingkungan sekitar kita, agar kehidupan dipelihara dengan layak sehingga bangsa ini bisa melahirkan generasi yang sehat, berbudaya dan berprestasi.[RA]

Sulitnya Mengatasi Kematian Ibu-Anak[KOMPAS] – Yurnaldi

Panas sungguh terik di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (22/11) siang. Sejumlah anak menangis dalam gendongan ibunya. Gerah, barangkali. Mungkin juga lapar. Sebagian, tampak bermain sekedarnya di ruang sempit Posyandu Ottauw, Kampung Sereh.

Ketika pejabat datang, seusai pencanangan Revitalisasi Posyandu dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), anak batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) ditimbang gantung. Sebagian anak memberontak, menangis.

Ada sejumlah anak batita dan balita menderita penyakit kulit serta gizi kurang. Namun, hari itu bukan untuk mendata penyakit tersebut, kecuali untuk menunjukkan aktivitas Posyandu yang dilengkapi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Yoas, seorang ibu (22) berharap bagaimana agar kesehatan anak-anaknya dan juga dirinya bisa lebih diperhatikan. “Selama ini pelayanan kesehatan hanya dilakukan oleh kader Posyandu,” ujar ibu itu. Harapan ibu Yoas, dan juga ibu-ibu lainnya di Jayapura, sama halnya dengan tekad Provinsi Papua, yang mencanangkan Menuju Papua Baru; Ibu Sehat Anak Sehat. Continue reading



Perempuan: Be Your Self by ratna ariani
November 24, 2008, 1:28 am
Filed under: keluarga | Tags: , , , , ,

Sebagai seorang anak sulung dan perempuan, saat saya masih kecil sering membanding-banding kan nama diantara teman-teman SD. Saat itu sekolah kami perempuan semuanya. Banyak teman menggunakan nama keluarga, tentunya nama ayahnya di belakang namanya. Kedengaran keren betul buat saya. Saya sempat ngiri juga, namaku kok gak dikasih embel-embel nama bapak ya? Apa bapak malu punya anak aku ya, karena waktu itu adikku 5 laki-laki semua. Jangan-jangan… aku bukan anak bapak. Halaaah… namanya juga pikiran anak-anak.

Tapi sungguh, pikiran ini sempat saya ambil serius bahkan minta bukti akte kelahiran ke ibu saya, hanya untuk membuktikan saya anak sah bapak-ibu. Bapak cuma mengatakan, ada atau tidak ada nama bapak, kamu tetap anak kami. Just be yourself, jadilah dirimu sendiri. Saya manggut-manggut tapi gak mengerti, cuma legaaa… ternyata aku anak sah kok. Ih sensi bener ya?

Hal menarik terjadi juga saat sudah menikah, banyak teman berganti nama dengan memasang nama suaminya. Duh, kayaknya gagah bener melihatnya ya. Ny Bambang Purnomo (contoh lho). Iya lah mungkin bagi mereka penting banget memberi tanda “sudah menikah” ya. Saya sendiri bukannya gak bangga dengan suami, tapi rasanya gak perlu amat merubah nama di KTP or kartu nama dengan nama suami. I am what I am laah..

Begitu para ibu ini mengantar anak-anak kesekolah, maka nama para ibu menghilang tiba-tiba. Gak penting lagi karena berubah jadi mama Sekar, mama Adi, mama Joni, pokoknya mamanya anak-anak di sekolah deh. Sehingga kalau ketemu saat terima raport pun kita gak inget (juga gak tahu) siapa nama sebenarnya para ibu-ibu ini.

Rupanya tradisi mengganti nama perempuan dengan menambah nama keluarga (fam), lalu ganti dengan suami, tidak hanya di budaya timur. Di negara barat pun demikian, saat mudanya Sarah John, begitu menikah berubah jadi Mrs James. Hilang lah nama si perempuan. Gak penting ? Continue reading



Wanted: Ayah Sejati (Source Unkonwn) by ratna ariani
September 26, 2008, 11:45 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,
Sebagai orang tua di zaman modern ini membesarkan anak adalah tugas yang menakutkan di tengah-tengah sebuah kultur dalam krisis. Penelitian menyampaikan sebuah data statistik yang mengerikan tentang apa yang sedang terjadi setiap hari di Amerika:

* 1.000 remaja wanita menjadi ibu tanpa nikah
* 1.106 remaja wanita melakukan aborsi
* 4.219 remaja mengidap penyakit yang tertular secara seksual
* 500 remaja mulai memakai narkoba
* 1.000 remaja mulai mengkonsumsi alkohol
* 135.000 anak-anak membawa sebuah pistol atau senjata lain ke sekolah
* 3.610 remaja dilecehkan; dan 80 diperkosa
* 2.200 remaja berhenti dari sekolah menengah
* 7 anak (usia 10-19 tahun) dibunuh
* 7 anak muda (17 tahun dan kebawah) ditangkap karena pembunuhan
* 6 remaja bunuh diri

Tidak heran bahwa banyak pria menghadapi tugasnya sebagai ayah dengan rasa takut dan gentar. Menjadi ayah bukan saja, dalam banyak hal, merupakan pekerjaan yang paling menakutkan di dunia, melainkan juga pekerjaan yang paling dibutuhkan di dunia.
Tugas sebagai seorang ayah merupakan kepentingan yang kritis, dan tidak pernah sedemikian rupa sedari saat ini dan zaman ini. Hubungan seorang anak dengan ayah merupakan sebuah faktor yang menentukan dalam kesehatan, perkembangan, dan kebahagiaan pemuda atau pemudi tersebut.

Pertimbangkan temuan-temuan yang didokumentasikan dengan baik berikut ini: Continue reading



Extra Income bagi Karyawan berNPWP by ratna ariani
September 11, 2008, 1:29 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , ,

Di saat kehidupan serba mahal seperti sekarang,  ibu-ibu berpikir keras untuk bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Kalaupun tidak bisa mendapat extra beberapa ratus ribu sebulan dari usaha sampingan, berusaha berbagai cara penghematan dilakukan. Salah satunya adalah memperketat pemakaian HP. Silahkan hitung berapa banyak dihabiskan bagi biaya pulsa untuk diri sendiri, suami dan bahkan anak-anak. Maka tidak heran sering saya jumpai para ibu berganti HP dan SIM card agar bisa memanfaatkan perang discon antar provider. Lumayan juga lho penghematannya. Harga HP sudah murces, jadi ada yang punya 2-3 SIM card untuk kebutuhan berbeda-beda.

Diam-diam ada sisi pendapatan lain yang bisa didapat dengan sedikit perubahan paradigma. Dirjen Pajak sedang gencar nya memanjakan mereka para karyawan berpenghasilan agar memiliki NPWP. Berbagai kemudahan akan diterima bagi karyawan berNPWP, diantaranya akan ada bebas fiskal ke Luar Negeri untuk sekeluarga termasuk anak-anak dibawah 21 tahun. Naah… bisa dihitung penghematannya kan kalau 5 orang anggota keluarga mau umroh atau liburan ke luar negri, menghemat 5 juta sendiri deh.

Selain itu ada ‘penghasilan tambahan’ yang diterima karyawan ber NPWP dibandingkan dengan karyawan yang TIDAK berNPWP. Walaupun setiap bulan dipotong pajak penghasilan oleh perusahaan, mereka yang ber NPWP, mendapatkan ‘extra income’ yang lumayan juga lho. Mau tahu besarnya berapa? Berikut saya sertakan simulasi-pph21 bagi karyawan berNPWP. Maaf format yang bisa diupload PDF jadi perlu print, cut and paste lagi. Tapi yang ingin hitung2 sendiri silahkan japri ke saya untuk saya email format XL nya. Thanks buat mbak Ria Hutabarat yang telah membagikannya buat kita-kita nih. Mari ajak suami ber NPWP sebagai tanda kita juga bertanggungjawab bagi negeri tercinta. Dengan punya NPWP malah ada tambahan pemasukan lagi. Oh ya sebelum ke luar negeri, jangan lupa laporan SPPT nya dibereskan karena itu syarat untuk mendapatkan bebas fiskal.



Sekolah Gratis: Tugas Pemerintah atau Swasta? by ratna ariani
September 8, 2008, 4:20 am
Filed under: artikel, pendidikan | Tags: , , , , ,

Bilamana masyarakat bisa melaksanakan sekolah gratis dengan berbagai cara, seharusnya pemerintah tidak meninggalkan tanggungjawabnya dalam memberikan pendidikan dasar bagi warga negaranya. Dengan alokasi anggaran pendidikan 20 % dari APBN hanya diperlukan niat ,tekad serta kerja keras mewujudkannya. Profil berikut adalah liputan SMP gratis bu Ade yang beredar di milis-milis; rupanya memang inisiatornya bu Ade Pudjiati. Yang lainnya membantu sebagai donatur. Selamat berkarya buat bu Ade, semoga anak-anak ini tetap cinta negerinya walau ditelantarkan dan disisihkan oleh sistem pendidikan yang ada. (RA)

[KOMPAS]8/09/08 –CARA UNIK MENGGUGAT PENDIDIKAN. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Begitu bunyi Pasal 31 Ayat 2 Amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Namun, hingga saat ini, amanat itu belum sepenuhnya terlaksana.

Ade Pujiati (41) adalah guru piano jebolan Fakultas Sastra Inggris Universitas Indonesia semester IV. Tahun 2005, Ade gelisah dan marah dengan pendidikan nasional. Itu gara-gara anak asuhnya, Intan yang duduk di bangku sekolah dasar, dibebani pungutan liar di sekolah untuk pelajaran tambahan. Karena tidak bersedia membayar, Intan diancam tidak lulus dan dicopot dari anggota Paskibraka.

”Saya nangis sampai berhari-hari, setelah itu saya bertekad mendirikan sekolah sendiri,” ujar Ade di rumahnya, Jalan Pancoran Timur VIII Nomor 48, Kompleks Perdatam, Jakarta Selatan, akhir Agustus lalu. Ade lalu mendirikan SMP Gratis Ibu Pertiwi di teras rumahnya.

SMP Gratis Ibu Pertiwi ditujukan bagi lulusan SD dari keluarga miskin yang tidak diterima di SMP negeri dan tidak mampu melanjutkan ke SMP swasta yang termurah sekali pun. Ade menilai, kalangan ini lekat dengan kebodohan dan kemiskinan sehingga harus dientaskan melalui pendidikan. Selama ini, golongan tersebut masih belum tertampung dalam sistem pendidikan nasional. Continue reading