Saatnya HATI NURANI bicara


YJP 13 Tahun: Awal Perjalanan Pendewasaan by ratna ariani
August 2, 2008, 10:45 am
Filed under: artikel | Tags: , , , , ,

Pada tanggal 25 Juli 2008, YJP akan berulang tahun yang ke-13. Bagi beberapa orang angka ke-13 menandakan suatu katastrophe, atau angka sial yang perlu dihindari. Mungkin pendapat itu benar di kalangan perempuan yang hidup di zaman feodal, karena angka tersebut menandakan akhir dari lonceng kehidupan bebas, dipaksa kawin dan dibelenggu oleh mitos-mitos pembodohan.

Akan tetapi, bagi sebagian perempuan lainnya yang berpikiran maju, angka ke-13 adalah justeru angka buang sial, angka yang ditandai penuh gairah karena memasuki usia pendewasaan. Masa usia mengeksplorasi pemikiran, sikap menentukan identitas diri yang dibangun atas fondasi kebebasan berpikir dan berekspresi. Usia ke-13 merupakan usia yang memasuki alam berpikir yang kritis yang menentukan plat form pilihan hidupnya kelak.

Tokoh perempuan seperti Kartini misalnya, menyadari konsekwensi hidup seorang perempuan yang menginjak masa akil balik. Masa dimana perempuan tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, berpergian sendiri, menentukan pilihan-pilihan hidupnya sendiri.
Surat Kartini tanggal 25Mei 1899, mengungkapkan kegelisahannya dan sekaligus keiriannya terhadap kakak-kakak laki-lakinya dan saudara-saudara sepupunya yang diberi kesempatan untuk melanjutkan
sekolah tingkat HBS (sekolah lanjutan menengah atas), sedangkan ia menunggu untuk dikawinkan oleh pilihan ayahnya. Continue reading



Harga Demokrasi: Semangat Kartini Tidak Murah by ratna ariani
July 22, 2008, 12:46 pm
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Saya mencoba utak atik iseng menghitung persiapan caleg di pesta demokrasi tahun depan. Kalau ada 560 kursi DPR yang diperebutkan 34 parpol, dan aturan UU Pemilu no 10/2008 mengharuskan setiap parpol memiliki 120 % caleg; maka tiap parpol harus menyerahkan 672 nama dimana 30 % nya atau 224 orang adalah perempuan. Jadi total akan ada 22,848 orang dengan 7,616 perempuan ikut bertarung memperebutkan 560 kursi. Kasarnya perbandingannya adalah satu kursi diperebutkan 40 orang, baik antara sesama caleg satu partai atau partai lainnya. Perbandingan ini bisa lebih besar bila di dapil (daerah pemilihan) nya termasuk yang ‘gemuk’ dan menjanjikan bakal suara dan kursi perolehan.

Sudah pasti para caleg perempuan juga harus mempersiapkan amunisi, baik untuk sosialisasi program, membuat selebaran, kaos dan topi, menyelenggarakan berbagai pertemuan dan seminar. Itu semua butuh uang kan? Oke lah kita serahkan mekanisme penentuan nomor urut di masing-masing parpol, tentunya masing-masing ada aturan mainnya. Yang jelas masa kampanye kali ini gak main-main… 9 bulan bo ! Maka harus dipastikan strategi dan amunisi harus benar2 diperhitungkan. Anggap sejuta rupiah sebulan, bulatkan deh Rp 10 juta total, hhmm… bisa dapat apa ya?

Makin kecil nomor urut maka makin besar usaha untuk ‘mengamankan’ PW (Posisi Wuenak) tersebut. Disisi lain yang tidak dapat nomor kecil juga berusaha untuk mendapatkan suara di atas 30 % BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Nah rasanya hitungan saya 10 juta diatas tadi pasti gak akan dilirik, itu cuma cukup untuk biaya transport bensin para pemasang spanduk dan bagi-bagi brosur. Kalau misalnya 10 juta perbulan, maka terpaksa Rp 100 juta dicadangkan untuk 10 bulan, itu pun cuma cukup untuk beberapa kali tayang masuk majalah. Masuk televisi? wah gaktau deh berapa besar lagi biayanya tuuh… Continue reading



Kartini Ngeblog (Dari Ventura Elisawati) by ratna ariani
July 22, 2008, 11:48 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,
Tulisan yang juga dimuat di Kompas ini , menyatakan bahwa untuk memelihara semangat pembaharuan Kartini memang kita harus ‘ahead’ pada jamannya. Artikel selengkapnya bisa diakses diblog mbak Velisa

Menurut hemat saya, apa yang dilakukan Kartini saat itu — menuangkan pikiran, memanfaatkan TIK (Teknologi Informatika dan Komputer) untuk berinteraksi, melakukan transformasi dan memberikan inspirasi — sebenarnya tak jauh dari apa yang kini tengah populer di dunia TIK. Salah satunya, ngeblog.

Blogging secara positif adalah menuangkan berbagai pemikiran, dalam personal web site (blog) untuk kemudian mendapatkan tanggapan dalam diskusi interaktif, yang positif tentunya, pada akhirnya bisa ditranformasikan dan bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang positif.

Karena itu, saya yakin bila Kartini hidup di zaman sekarang, dia pasti ngeblog, supaya lebih banyak orang berani berpendapat menyampaikan pikirannya. Dan buntutnya makin banyak orang pintar dan terjadi social networking yang positif. Continue reading