Saatnya HATI NURANI bicara


Home Sweet Home by ratna ariani
February 4, 2009, 5:19 am
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

kunjungan-rutin-yka-di-salah-satu-panti-laras-di-jakartaDalam setiap kunjungan yang dilakukan ke berbagai panti laras milik Pemda DKI, panti penampungan para penderita stress, banyak sekali dijumpai warga binaan yang berulang kali keluar masuk panti. Kalau di berbagai Persekutuan Doa selalu ada ujub doa agar minggu depan Tuhan mengirimkan lebih banyak orang datang untuk bersekutu bersama. Maka kami mendoakan yang sebaliknya, agar warga binaan di panti laras berkurang terus. Dalam doa kami selalu berharap bahwa mereka sembuh dan dapat meninggalkan panti laras untuk kembali berkumpul dengan keluarganya. Tapi kenyataannya Tuhan menjawab doa sebaliknya karena jumlah warga binaan semakin hari semakin bertambah melebih kapasitas panti sehingga jatah makan perorang pun semakin mengecil. Jangan bicara soal gizi di panti kalau penghuni bertambah terus sementara anggaran pemda tidak berubah dari tahun ke tahun. Krisis ekonomi dan berbagai tekanan membuat semakin banyak orang tidak tahan dan menderita stress berkepanjangan. Para warga binaan ini rata-rata pernah terlibat dalam berbagai cara usaha untuk membunuh dirinya sendiri karena sudah putus harapan. Ada juga yang bisa sembuh tetapi dari yang sedikit ini hanya pulang sebentar dan beberapa waktu kemudian kembali lagi masuk panti. Bahkan mereka lebih merasa betah tinggal di panti laras daripada dirumahnya sendiri. Continue reading

Advertisements


Perempuan Harus Diberdayakan Agar Mandiri by ratna ariani
January 14, 2009, 7:21 am
Filed under: pemberdayaan ekonomi, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Batik memang lagi trend saat ini, tapi dibalik lembaran-lembaran batik baik yang kualitas cetakan murah sampai yang mahal sekalipun, telah menyerap begitu banyak tenaga kerja khususnya perempuan. Menggalakkan sektor home industry, UMKM, setara dengan usaha melibatkan perempuan untuk membangun kemandiriannya. Maka hancurnya industri ber nilai tambah seperti garmen, berakibat paling parah bagi kaum perempuan. Begitu banyak buruh perempuan dirumahkan dan akhirnya mereka kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya. Semoga setiap dari kita juga memiliki cita-cita yang sama, mengajak orang lain keluar dan bangkit dari ketergantungan dan menjadi mandiri. Sekecil apapun usaha kita, walau hanya satu-dua orang yang kita bantu, itu sangat berarti karena kita telah membantu 1-2 keluarga untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki kehidupan mereka. (RA)

Media Indonesia Jumat, 09 Januari 2009 18:06 WIB

BANYUWANGI– MI: Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta mengatakan kaum perempuan perlu diberdayakan agar bisa mandiri dan tidak terjebak dalam tindak prostitusi atau perdagangan manusia.

“Seperti di sanggar batik yang telah memperkerjakan sekitar 20 perempuan ini. Mereka dilatih membatik agar tidak terjerumus dalam jerat prostitusi,” katanya saat mengunjungi Sanggar Batik Sayu Wiwit yang berada di Jalan Sekardalu 22, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (9/1).

Menurut putri Bung Hatta ini, perempuan di sekitar lokasi pembuatan batik juga perlu mendapatkan pelatihan ketrampilan membatik.Ia menilai, sebagian perempuan di provinsi Jatim banyak yang menjadi korban trafficking (perdagangan perempuan), karena berbagai sebab. Continue reading



Sunset Policy: Jangan Sampai Menyesal ! by ratna ariani
December 4, 2008, 6:40 am
Filed under: artikel, sosial masyarakat | Tags: , , ,

Marilah kita melakukan pertobatan nasional dengan memanfaatkan kesempatan kebijakan Sunset Policy yang akan berakhir dalam 3 minggu ini – 31 Desember 2008.

Sepengetahuan saya bebas fiskal ini berlaku bagi seluruh anggota keluarga pemilik NPWP yang berusia dibawah 21 tahun. Tapi pastikan juga anda sudah menyelesaikan kewajiban tahun fiskal sebelumnya, tidak sekedar punya NPWP.
Per 1 Jan 2009 karyawan yang tidak punya NPWP  membayar pajak penghasilan lebih besar dari pada yang memiliki NPWP. Selain itu masalah asset pribadi serta hutang (kewajiban pada bank) termasuk atas nama istri juga harus dilaporkan sebelum 31 des 2008.
Bila lalai maka kita akan kesulitan saat melakukan transaksi ataupun hibah asset  tersebut ke anak-anak, juga saham pendiri perusahaan kita di notaris. Jadi jangan sampai menyesal karena ketidaktahuan dalam memanfaatkan peluang yang menarik dari Dirjen Pajak ini.

Untuk jelasnya, silahkan hadir di acara Sosialisasi Kebijakan Sunset Policy  yang akan diadakan pada

Hari/tanggal    : Senin, 15 Desember 2008
Pk                    : 19.00 – selesai
Tempat            : Aula Gereja Santa Perawan Maria Ratu (Blok Q) Jl Suryo 62 (telp 021- 720 8640)
Nara sumber   : Bpk Sayuti Gazali, konsultan pajak dan dosen di Univ. Andalas
Biaya                : Rp 50.000 untuk konsumsi dan makalah
Pendaftaran      0856 91 77 9696 (SMS only – tempat terbatas)
Penyelenggara Seksi Kerawam Paroki SPMR

Semoga informasi ini bisa membantu teman2 sekalian mengingat gencarnya Dirjen pajak mensosialisasikan Sunset Policy. Percayalah bahwa Pemerintah tidak akan menggorok ayamnya, tapi cuma meminta bagian dari telur-telur  yang dihasilkannya. Silahkan forward kepada para pengusaha dan profesional yang anda kenal.
Salam
Ratna Ariani

………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Tarif Fiskal Udara Akan Jadi Rp 3 Juta, Bawa NPWP Bebas
DJP Siapkan Draf PP, Pemilik NPWP Bebas

JAKARTA – Bagi warga yang biasa bepergian ke luar negeri, sebaiknya jangan menunda lagi membuat Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Mulai 2009 Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan menaikkan tarif fiskal angkutan udara dari semula Rp 1 juta menjadi Rp 3 juta. Sesuai UU Pajak Penghasilan (PPh), jika dapat menunjukkan NPWP, mereka yang ke luar negeri akan mendapatkan fasilitas bebas fiskal. Continue reading



Indonesia Bebas Asap (Rokok) by ratna ariani
December 3, 2008, 7:01 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Untuk membangun dan memelihara keluarga Indonesia yang sejahtera, perlu diciptakan lingkungan yang sehat. Saya setuju sekali dengan gerakan “Stop Merokok” daripada “Kurangi Merokok”. RUU pengendalian dampak tembakau gagal masuk agenda DPR karena banyak anggota DPR perokok, apalagi di DPRD tidak banyak yang berani menerbitkan PERDA anti rokok. Kalaupun ada pelaksanaannya tumpul seperti di Jakarta. Baru sekali diadakan razia terhadap perokok, itupun di sekitar terminal Blok M, bukan di gedung DPR. Mereka kemungkinan besar juga tidak mau meneliti kebenaran data2 yg disampaikan para pengusaha rokok. Lha kalau rapat aja bolos melulu, apalagi baca report dan cek data ke lapangan? Daripada menunggu DPR yang gak jelas, lebih baik mulai dari diri sendiri dan dari para pemimpin. Start from within, start from the top.

Untuk itu ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

1) mulailah dengan diri sendiri untuk TIDAK merokok, yang sudah keburu mulai mbok jangan diteruskan. Termasuk saya lihat (maaf) para pemuka agama banyak yang doyan rokok. Maaf, uang rokoknya juga dari umat tha ya? Kalau pada sakit akibat jadi perokok berat, yang ngurusin juga umat. Lebih baik dana yang ada dipakai untuk membantu karya sosial yang lain.
Ehm, tapi kalau masih ada pemuka agama yang ingin merokok, monggo saja asal di kamar sendiri barangkali ya? Tentunya perlu jadi teladan bagi umat terlebih dulu sebelum meminta orang lain untuk berhenti merokok.

2) Berikan ruang terbatas bagi yang merokok. Kalau bisa waktu yang terbatas.
Di Jakarta setiap gedung wajib menyediakan ruang bagi perokok. Biasanya lantai paling bawah, atau malah di lobby luar. Sehingga bagi perokok yang tinggal di lantai atas malas juga sering2 harus turun ke lantai bawah untuk merokok karena pasti pekerjaan terbengkalai. Halaman tempat ibadahpun harus steril rokok, tidak tergantung jam dan hari ibadah. Dirumah anda bisa jadi daerah bebas rokok, kecuali dekat bak sampah atau pintu pagar (kalau tega).

3) kumpulkan jatah rokok anda harian dan anda akan kaget bahwa jumlahnya cukup banyak untuk bisa membantu yang lain. Di saat sosialisasi CU (Credit Union), pos inilah yang paling terasa bisa menambah jatah tabungan selain pemakaian pulsa yang dirasa tidak perlu. Continue reading



Tuhan 9 cm by ratna ariani
August 29, 2008, 1:09 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

Urusan yang satu ini memang ribet. Sudah dibikin aturan bahkan perda sekalipun, tidak ada giginya, cuma jadi macan ompong. Para pejabat bahkan anggota DPR pun merokok diruang sidang. Mau dibikin fatwa MUI, apa ya bisa ? lha wong para pemuka agama apapun banyakyang ‘ngudut’ je.. Walhasil cuma berkesan memberi pesan : anak-anak jangan ngerokok dulu, nanti boleh…. Bahkan kalau iklan berbahasa arabdari Saudi ini pun ditempel di tempat ibadah mungkin ‘gak ngepek’ juga. Para perokok selalu punya alasan bahwa yang tidak merokokpun akhirnya mati juga. Ya memang, tapi para perokok lupa bahwa mereka meninggalkan pesan tidak tertulis pada pasangan dan anak-anaknya ” Hei aku sedang mempersiapkan kematian kita“.

Mau dilarang total, wah lebih heboh lagi. Pendapatan negara dari cukai rokok saja di tahun 2006 mencapai 52 trilliun, lebih dari tiga kali lipat royalti PT Freeport. Didalam indutri ini ada 6 juta tenaga kerja didalamnya. Kalau satu orang menanggung 3 mulut maka ada 24 juta perut tergantung di industri ini. Kalaupun industri rokok dalam negeri mengecil tapi import gak dilarang, sama saja lah, justru kita menghidupi tenaga kerja industri rokok dari malaysia, vietnam dsb. Bukan masalah mudah menciptakan lapangan kerja bagi 6 juta orangyang mayoritas minim ketrampilan. Maka kalau cuma melihat dari sisi ini para perokok makin senang dan berkampanye “mari merokok ramai-ramai karena kita menghidupi orang banyak”.

Disatu sisi data pendapatan negara ini juga harus dibandingkan dengan berapa besar akibat yang ditimbulkan dalam belanja negara dari dibakarnya 226milyar batang rokok. Fasilitas pengobatan kanker yang canggih harus diadakan di berbagai Rumah Sakit Daerah. Sekali perawatan kemoterapi di RSCM bisa habis 4 juta rupiah. Bea siswa pendidikan anak atau orang tua asuh keluarga miskin sebagai subsidi pengganti uang rokok; bandingkan nilai sebungkus rokok dengan uang SPP anak SD/SMP. Belum termasuk nyawa beberapa anak yang memilih gantung diri karena malu gak bisa bayar SPP. Belum lagi uangreceh di jalanan yang diberikan para pengemudi mobil mewah,cuma habis dibakar anak-anak. Mereka memilih menggelandang di jalan demi makan dan rokok daripada sekolah. Continue reading



Aktivis Perempuan: Antara LSM dan Parpol by ratna ariani
July 27, 2008, 8:44 am
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Di saat semua partai politik memasang iklan perlunya perempuan untuk dijadikan caleg (calon legislatif) di berbagai dapil, berbagai upaya pun dilakukan. Mereka memasang slogan untuk menarik perhatian para perempuan bahkan mereka juga menggunakan teknik jemput bola. Berbagai aktivis perempuan di LSM ditawari dan diajak untuk bergabung. Kalau sudah kepepet, terpaksa istri, anak dan menantu dipasang sebagai caleg demi memenuhi aturan KPU. So, bola nya memang ada di tangan perempuan, terutama memang perempuan yang memiliki kualitas dan dinilai mampu berkiprah di masyarakat.

Menjadi perempuan aktivis baik di LSM atau di badan sosial sangat berbeda dengan menjadi bagian di partai politik. Ada banyak hal yang memang menjadi pertimbangan perempuan sebelum mereka memutuskan terjun untuk masuk ke dunia politik. Beberapa pertimbangan diantaranya:

1. Dukungan keluarga terutama pasangan dan anak.

Rasanya ini menjadi pertimbangan utama para perempuan maju ke dunia politik. Kegiatan sosial bisa diatur sesuai jadual perempuan; sangat flexibel karena bisa disesuaikan dengan kegiatan perempuan. Tidak dilakukan malam hari, tidak keluar kota sering-sering, tidak direncanakan saat week end. Dunia politik sangat berbeda, rapat bisa kapan saja dan bisa sampai malam bahkan dini hari. Full asap rokok lagi. Maka berat bagi perempuan maju sebagai caleg tanpa dukungan keluarga. Apalagi kalau tidak ada latar belakang politik didalam keluarganya,makagakheran kalau nepotis masih kental disini. Kalau masih single, gak masalah lah. Malah siapa tahu bisa dapat gebetan kan? Continue reading