Saatnya HATI NURANI bicara


Laws Against Torture Needed by ratna ariani
November 25, 2008, 7:47 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Kekerasan demi kekerasan ada disekitar kita, tawuran mahasiswa, kebrutalan para pendukung yang kalah dalam pilkada, bahkan di lingkungan yang seharusnya memberikan rasa aman tetap saja bahasanya “kekerasan”. Kasus ini sudah terjadi lebih dari setahun lalu, dan seperti kasus kekerasan lainnya yang berjuang demi  hak warga negara demi rasa aman layaknya menembus awan. Terbang entah sampai kemana. Berbagai produk UU seperti UU Perlindungan Saksi dan Korban pun tidak cukup menjamin amannya para aktivis HAM untuk bersuara. Kasus orang hilang bertambah lagi dengan hilangnya Inul, seorang aktivis yang mengadvokasi alih fungsi Babakan Siliwangi. Kita perlu merdeka bukan hanya dari penjajahan, tapi merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kekerasan dan merdeka untuk mendapatkan rasa aman dalam hidup bermasyarakat. [RA]

On Jan. 22, 2007, Hartoyo was at home with his partner, Bobby (not his real name), when two men forcibly entered his house and proceeded to vandalize his property before assaulting the two men. Hartoyo and Bobby were then dragged outside to a place where a crowd of around 15 people had gathered. They were subjected to beatings and verbal abuse. Hartoyo was ordered by the attackers to immediately vacate the boarding house. The attackers then informed the local police authorities.

The two victims were taken by four police officers to the Banda Raya Police Station where they were made to strip down to their underwear and were viciously beaten and verbally abused by the officers. The police officers later sexually abused Hartoyo and then forced his partner to perform oral sex on him. The two were then dragged to the police station courtyard where officers sprayed them with ice-cold water.

The police also forced Bobby to urinate on Hartoyo’s head. Hartoyo and his partner were then taken to a police lockup, where they were held until morning.

This ruthless, inhuman and barbaric torture has been a cavernous trauma for Hartoyo. Furthermore, this abysmal event scars Indonesia’s face of humanity.

More than a year later, in October 2008, the case was finally tried by the Banda Aceh District Court. However, as the court regarded the torture merely as a minor offense, there was only one judge hearing the
case.

During the trial, the judge did not examine the acts of torture but rather focused on Hartoyo’s sexual orientation. The judge advised him to turn away from sin, giving the impression that it was permissible
for the perpetrators to beat and assault the victims because of their different sexual orientation.

In about 30 minutes, the judge had made his decision: The four perpetrators were sentenced to three months’ imprisonment with six months of probation and a fine of Rp 1,000.

Given that the case was tried as a minor offense, the verdict was final and binding — leaving no hope for the victim to appeal.

Hartoyo’s case is only one example of how the Indonesian legal apparatus treats this kind of torture. The court obviously treats the “common enemies of all mankind and all nations” nicely and inadequately
by ruling they only committed a minor offense. Continue reading



Upaya Perlindungan Anak dari Kekerasan by ratna ariani
October 28, 2008, 9:31 am
Filed under: artikel | Tags: , , , , , ,

Hadirnya Undang Undang Perlindungan Anak (UUPA) No 23 Tahun 2002, sebagai hukum positif yang memberi jaminan perlindungan anak, semestinya cukup membuat lega bagi orang tua dan kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap masalah anak di Indonesia.

Namun realitasnya, jaminan pemenuhan hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang, dapat berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, masih “sebatas idealitas”.

Bahkan Kak Seto mengaku prihatin terhadap perlindungan anak di Indonesia sebagaimana yang diatur UUPA No 23 tahun 2002, pelaksanaannya jauh dari harapan semua pihak. Pelaksanaan UU tersebut, saat ini mungkin hanya dilaksanakan baru sekitar 20 % saja. Fenomena kekerasan terhadap anak, dengan berbagai bentuknya nampaknya masih menjadi tren yang terus meningkat dalam masyarakat. Bebarapa data tentang kasus kekerasan yang dicatat oleh beberapa lembaga, sebagai berikut:

1) YKAI mencatat 172 kasus (1994), 421 (1995), 476 (1996).

2) PKT-RSCM tahun 2000 – 2001 mencatat 118 kasus kekerasan pada anak. Dari data tersebut teridentifikasi pelaku tindakan kekerasan adalah: tetangga (37,5 %), pacar (23 %), kenalan (9,5 %), saudara (7 %), ayah kandung (5 %), majikan/atasan (2,5 %), ayah tiri (1 %), suami (1 %) dan orang tak dikenal (13,5 %). Continue reading



Kumpulan Kisah Kekerasan Terhadap Perempuan by ratna ariani
October 20, 2008, 12:33 am
Filed under: resensi buku | Tags: , , ,

Judul Buku : Kekerasan Itu Berulang Padaku

Penulis : Titiana Adinda

Genre : Kumpulan Kisah Nyata (True Story)

Penerbit : Elex Media Komputindo (Gramedia Group)

Tahun Terbit : 2008 (Harga Rp 22.800,-)

Pengantar Ahli : dr. Mutia Prayanti, SpOG (Ketua PKT RSCM)

Mariana Amiruddin (Dir. Eksekutif Jurnal Perempuan)

Kisah kekerasan terhadap perempuan sering terjadi di sekitar kita. Dampaknya selain menimbulkan luka fisik juga luka psikologis. Para korban enggan melapor karena takut pada ancaman pelaku atau menggangap kekerasan itu sebagai aib keluarga. Fenomena kekerasan terhadap perempuan bukan semata masalah pribadi, tapi juga merupakan tanggungjawab negara dan masyarakat. Masyarakat maupun penegak hukum harus terlibat untuk mengatasi dan menyelamatkan perempuan dari segala bentuk kekerasan.

Buku ini berisi sepuluh kisah nyata tentang kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan saat berpacaran. Mulai dari suami yang suka menyiksa dan tak mau memberi nafkah, sampai kisah korban yang melakukan aborsi karena sang pacar tak ingin bertanggungjawab.

Hapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan!



Fotografi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (Titiana Adinda) by ratna ariani
September 1, 2008, 6:02 am
Filed under: resensi buku | Tags: , , , ,

Fotografi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan

Judul Buku: Living With The Enemy
Karya Fotografer: Donna Ferrato
Genre : Kisah Nyata (True Story)
Bahasa : Inggris
Halaman: 175 halaman

Aku dihadiahi buku ini seminggu yang lalu oleh sahabatku yang baik
hati. Dia memesannya lewat http://www.amazon.com. Total harga buku dan biaya pengiriman ke Indonesia sejumlah Rp 400.000,- (Empat Ratus Ribu Rupiah). Hmm..Bukan harga yang murah ya hanya untuk sebuah buku. Apa sih istimewanya buku ini? Sampai aku ingin sekali memiliki buku ini.

Pertama kali melihat buku ini dari temanku seorang fotografer bernama mas Ahmad `Deny’ Salman. Kami, bersama-sama dgn PKT RSCM dan Jurnal Perempuan serta para fotografer sedang merancang sebuah program tentang fotografi kasus kekerasan terhadap perempuan. Sekarang sedang masa pematangan program dengan diskusi-diskusi yang kami adakan.

Begitu melihat buku ini kesan pertama adalah buku ini amat `lux’ pasti bukan buku biasa. Termasuk tema yang diangkat oleh fotografernya yaitu Donna Ferrato. Ya dia mengambil foto perempuan korban kekerasan. Ada foto korban kekerasan yang berdarah-darah, di rumah sakit, pertemuan para perempuan dalam kegiatan support group, di kepolisian, perempuan latihan self defense for women (latihan pertahanan diri untuk perempuan) hingga perempuan-perempuan yang dihukum dipenjara akibat upayanya bertahan dari kekerasan yang dihadapinya. Semua terlihat dari foto sepanjang buku itu. Misalnya kita bisa melihat bagaimana reaksi seorang anak kepada ayahnya yang telah melakukan kekerasan terhadap ibunya. Terlihat dalam foto itu anak tersebut marah sambil menunjuk ayahnya yang saat itu sudah dipegangi oleh polisi. Semua foto-foto tersebut adalah hitam putih. Continue reading