Saatnya HATI NURANI bicara


KONFERENSI PERS TOKOH DAN PEMUKA AGAMA-AGAMA TERKAIT DENGAN KONFLIK DI JALUR GAZA PALESTINA by ratna ariani
January 12, 2009, 9:44 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Minggu, 11 Januari 2009, Pukul 13.00
Di Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang

Mencermati dan menimbang konflik di Jalur Gaza Palestinadan indikasi akan meluasnya perang di wilayah tersebut, kami para pemuka agama-agama di Semarang bertekad menjalin persatuan dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Kita menyadari bahwa apa pun alasan, perang antarmanusia, antarbangsa dan negara tidak bisa dibenarkan dan merupakan kejahatan melawan Allah dan martabat manusia. Karenanya, sebagai bentuk keprihatinan kami yang mendalam terhadap konflik berkepanjangan di Jalur Gaza, kami, para pemuka agama-agama di Semarang:

1. Menyatakan keprihatinan yang mendalam terhadap konflik di Jalur Gaza Palestina yang sudah terjadi sekitar dua minggu ini.
2. Mengecam segala bentuk tindakan kekerasan yang telah menjadikan warga sipil (terutama perempuan dan anak-anak) sebagai korbannya.
3. Menghimbau umat beragama di Indonesia agar dengan jernih melihat persoalan konflik di Palestina sebagai persoalan politik, ideologi dan ekonomi yang terkait dengan sengketa wilayah.
4. Mendukung segala bentuk solidaritas damai terhadap Palestina dan para korban perang.
5. Menolak segala bentuk tindakan yang mengatasnamakan dukungan terhadap Palestina namun menggunakan kekerasan dan aksi anarkis.
6. Mendorong umat beragama di Indonesia, Semarang khususnya, agar tidak terpancing dengan upaya menghubungkan agresi Israel sebagai persoalan konflik agama, mengingat penduduk Palestina di Jalur Gaza juga terdiri dari beragam agama dan korban konflik di Jalur Gaza juga membawa korban, bukan hanya umat Islam danKristiani di Palestina, tetapi juga umat beragama lain.
7. Meminta agar media massa (cetak maupun elektronik) melakukan pemberitaan yang berimbang demi menjagakesejukan iklim kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan di Indonesia sebagai rumah bersama Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Continue reading

Advertisements


Menyikapi Konflik Hamas-Israel by ratna ariani
January 1, 2009, 12:20 pm
Filed under: artikel, politik | Tags: , , , ,

Oleh Mohamad Guntur Romli.

Sampai tiga hari serangan militer Israel ke jalur Gaza telah tewas 350 orang lebih dan 1.000 orang luka-luka. Tak hanya penduduk Palestina yang banyak mati syahid, serangan militer Israel yang membabi buta itu juga menghancurkan fasilitas-fasilitas publik: universitas, masjid, rumah sakit, dan lain-lain. Dunia internasional mengecam dan mengutuk tindakan brutal militer Israel itu. Konflik antara Hamas dan Israel ini lahir akibat dari kebuntuan politik dalam mencari solusi ke depan. Gagalnya perpanjangan gencatan senjata dua pekan sebelum ini antara Israel dan Hamas menjadi pemantik konflik ini. Kedua belah pihak saling tuding pihak mana yang mengawali konflik ini. Bagi Israel, Hamas-lah yang telah mengirimkan roket-roket yang menyerang permukiman sipil Israel. Namun, bagi Hamas, Israel-lah yang telah melanggar kesepakatan genjatan senjata sehingga Hamas tidak ingin memperpanjang kesepakatan itu.Apa pun persoalannya, tindakan Israel yang menyerang Gaza kali ini tidak bisa dibenarkan sama sekali. Apa yang disebut sebagai ”tindakan membela diri” hanyalah dalih bagi pihak militer Israel untuk menyerang Palestina yang tujuannya meruntuhkan rezim Hamas di Gaza. Cara ini hanya didukung oleh kelompok elite konservatif dan militer di Israel yang masih percaya bahwa dengan pencaplokan dan serangan militer, keamanan bagi rakyatnya bisa dijaga.

Masih segar dalam ingatan kita, pada medio 2006, ketika ditengarai ada delapan serdadu Israel terbunuh dan dua serdadu ditawan di perbatasan Lebanon selatan oleh tentara Hizbullah, Israel malah melancarkan serangan membabi buta, menghancurkan kota-kota di Lebanon, khususnya Beirut, dan menewaskan 1.000 orang lebih.

Pihak militer Israel dalam posisi sewenang-wenang merasa di atas hukum nurani kemanusiaan dan hukum-hukum internasional. Setiap kali Israel terdesak oleh kesepakatan damai, salah satu strategi yang ia lancarkan adalah melakukan penyerangan dan kekerasan sehingga pihak Palestina lupa akan tuntutan-tuntutan terhadap Israel tersebut dan terpaksa berhenti pada genjatan senjata saja. Continue reading



DCS (Daftar Cerita Suka-duka) dari DCS – 3: Pindah Dapil by ratna ariani
October 11, 2008, 9:05 am
Filed under: politik | Tags: , , , ,

Terbukanya reformasi di bidang politik membuka peluang berdirinya parpol-parpol baru. Entah sampai kapanpun hakuntuk berdemokrasi tidak akan bisa dibatasi.Yang bisa dibangun adalah sistem seleksi yang menuntut perbaikan kualitas dan kuantitas para politis didalamnya. Jumlah parpol yang lolos verifikasi bukannya semakin sedikit justru bertambah banyak. Bukannya karena banyak wajah baru, tapi sebenarnya stock (pemain) lama dengan bungkus (parpol) baru. Beberapa parpol baru merupakan pecahan yang dibentuk dari para mantan fungsionaris parpol besar yang ada. Mantan fungsionaris Demokrat membentuk Barisan Nasional dan PDP. Golkar juga tak kalah digerogoti Hanura karena sang mantan capres Golkar membentuk gerbong sendiri. PDIP pun ditinggalkan kader-kader penting dan mendirikan PDP. PMB mengklaim menguasai massa PAN dan menganggap PKS adalah tandingannya. PKB pun sempat terbelah dua.

Apa yang terjadi disini adalah proses pematangan demokrasi, yang akhirnya menuju seleksi alam untuk mencapai keseimbangan antara parpol satu dengan yang lainnya. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya; karena satu sama lain bisa saling melakukan introspeksi. Disisi lain  fenomena ini juga tanda kemunduran karena konflik internal partai tidak bisa diselesaikan dan justru memilih untuk memisahkan diri. Untuk mengurus kader saja masih belum sinkron dengan elit partai, apalagi mengurus kabinet untuk menggembalakan rakyat yang 200 juta dan sangat plural. Rasanya di dunia ini tidak ada yang sekompleks Indonesia,baik dari penduduk, letak geografis, serta bahasa dan tingkat pengetahuannya.

Walhasil konflik yang tak terselesaikan seperti api dalam sekam karena pelan tapi pasti muncul barisan sakit hati. Mekanisme penentuan caleg, baik untuk pemilihan dapil dan pemberian no urut yang tidak transparan, membuat kekecewaan besar para kadernya yang telah membuktikan karyanya bertahun-tahun. Kelihatannya dari parpol hasil PEMILU 2004 hanya PKS yang minim internal konflik dalam hal pencalegan. Parpol baru belum terdengar karena masih ‘promosi mencari nama’, masih balita belum habis satu putaran pemilu. Continue reading