Saatnya HATI NURANI bicara


Perlombaan Bohong Para Caleg by ratna ariani
January 9, 2009, 7:37 pm
Filed under: artikel, politik | Tags: , , , ,

Oleh: Djoko Susilo *[Jawa Pos] Meski pemilu masih tiga bulan lagi, para caleg (calon legislator) sudah berlomba memasang poster, spanduk, baliho, dan banner di mana-mana. Kota pun menjadi semrawut dan kotor karena kampanye tidak resmi para calon politikus itu.

Yang luput dari para pengamatan masyarakat, sesungguhnya perlombaan pemasangan peraga kampanye itu adalah awal perlombaan kebohongan calon politisi. Semuanya menunjukkan bahwa dirinya “siap mengabdi bagi ibu pertiwi” atau kepentingan masyarakat luas. Tidak ada yang menyatakan mereka berminat menjadi caleg karena ingin meningkatkan kesejahteraan keluarga, bukan rakyat. Selain itu, jika sudah duduk sebagai anggota dewan, mereka malas bekerja sebagaimana sebagian kolega saya sekarang ini.

Kebohongan calon anggota legislatif ini seakan-akan mengepung warga Kota Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia. Ada banner besar ?di sebuah sudut jalan di Surabaya Timur dengan tulisan besar “saatnya mengabdi untuk negeri”. Ada lagi caleg yang menuliskan semua janji kampanyenya di baliho yang dipasang besar-besaran di sebuah jalan di Surabaya Selatan. Yang juga menonjol, ada caleg yang memasang janjinya “berbuat untuk memberi manfaat” di sejumlah tempat. Padahal, manfaat yang akan didapat untuk rakyat jika dia duduk di DPR tidak jelas benar.

Bahkan, yang lebih tidak masuk akal ialah janji seorang caleg yang akan memberikan “100 % gaji untuk rakyat”.

Terus terang, saya berani mengatakan bahwa semua janji yang disampaikan itu bohong belaka. Mayoritas rakyat sebenarnya juga tidak akan percaya.

Manipulasi dan Pembodohan Continue reading

Advertisements


DCS (Daftar Cerita Suka-duka) dari DCS-2: Keterwakilan Perempuan by ratna ariani
October 11, 2008, 1:58 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Ceritanya panjang kalau ditanya, mengapa perempuan harus diberi ‘previlege’ atau keistimewaan dalam jalur  sistem kepartaian. Memang dari sononya perempuan tidak selalu dapat nomor satu atau setara dengan yang pria. Banyak cerita dan kisah tentang keputusan saat melahirkan, bayi perempuan lebih sering digugurkan kalau tidak dikucilkan karena membuat malu keluarga yang mengharapkan bayi laki-laki. Bila tidak ada biaya maka anak perempuan tidak harus kesekolah, toh nanti ke dapur juga. Perempuan tidak perlu bekerja karena mengurus anak dan dapur, padahal mahal sekali biaya hidup di kota besar kalau hanya mengandalkan single income. Tingginya jumlah kematian bayi terjadi akibat rendahnya gizi ibu hamil. Dari data BKKBN 2004, ada 15,700 ibu meninggal selam proses kehamilan atau kelhiran. Dengan kata lain setiap 35 menit seorang ibu hamil meninggal di Indonesia. Fakta tersebut menunjukkan lemahnya proteksi perempuan untuk tetap survive

Disisi belahan dunia lain, pengalaman demokrasi  menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara keterwakilan perempuan dalam legislatif terhadap jiwa produk undang-undang yang dihasilkannya. Hal ini juga terjadi di pihak eksekutif dan yudikatif: ada sentuhan feminin dan sapaan kepada mereka yang tergolong lemah dan tersingkir; khususnya dalam hal perundangan di bidang pendidikan, kesehatan, jaminan sosial dan dunia wirausaha. Banyak negara yang memiliki jaminan sosial tinggi dan GDB (Gross Domestic Bruto) tinggi dan korupsi kecil, ternyata memiliki prosentasi wanita cukup tinggi di jajaran pengambil keputusan seperti di negara-negara skandinavia. Continue reading



Aktivis Perempuan: Antara LSM dan Parpol by ratna ariani
July 27, 2008, 8:44 am
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Di saat semua partai politik memasang iklan perlunya perempuan untuk dijadikan caleg (calon legislatif) di berbagai dapil, berbagai upaya pun dilakukan. Mereka memasang slogan untuk menarik perhatian para perempuan bahkan mereka juga menggunakan teknik jemput bola. Berbagai aktivis perempuan di LSM ditawari dan diajak untuk bergabung. Kalau sudah kepepet, terpaksa istri, anak dan menantu dipasang sebagai caleg demi memenuhi aturan KPU. So, bola nya memang ada di tangan perempuan, terutama memang perempuan yang memiliki kualitas dan dinilai mampu berkiprah di masyarakat.

Menjadi perempuan aktivis baik di LSM atau di badan sosial sangat berbeda dengan menjadi bagian di partai politik. Ada banyak hal yang memang menjadi pertimbangan perempuan sebelum mereka memutuskan terjun untuk masuk ke dunia politik. Beberapa pertimbangan diantaranya:

1. Dukungan keluarga terutama pasangan dan anak.

Rasanya ini menjadi pertimbangan utama para perempuan maju ke dunia politik. Kegiatan sosial bisa diatur sesuai jadual perempuan; sangat flexibel karena bisa disesuaikan dengan kegiatan perempuan. Tidak dilakukan malam hari, tidak keluar kota sering-sering, tidak direncanakan saat week end. Dunia politik sangat berbeda, rapat bisa kapan saja dan bisa sampai malam bahkan dini hari. Full asap rokok lagi. Maka berat bagi perempuan maju sebagai caleg tanpa dukungan keluarga. Apalagi kalau tidak ada latar belakang politik didalam keluarganya,makagakheran kalau nepotis masih kental disini. Kalau masih single, gak masalah lah. Malah siapa tahu bisa dapat gebetan kan? Continue reading



Suara Perempuan Dayak: Perempuan Pilih Perempuan by ratna ariani
July 22, 2008, 4:21 pm
Filed under: politik | Tags: , ,

Apakah Hak kaum Perempuan, anak-anak, kelompok marginal dan masyarakat miskin kota telah terpenuhi melalui Program dan Kebijakan yang ditetapkan oleh orang-orang yang duduk di Legislatif yang telah dipilih oleh Kaum Perempuan ? Apakah kita memilih karena hanya karena memilih atau kita memilih karena kita sadar memilih siapa yang kita percaya untuk kita pilih, untuk memperjuangkan hak-hak Kaum Perempuan, anak-anak, kelompok marginal, dan masyarakat miskin kota ??JALAN-JALAN MENUJU PESTA KEMENANGAN …. UNTUK SIAPA??

PEMILU 2004

Khusus Kota Palangka Raya, jumlah partai yang mengikuti pemilu Legislatif ada 14 partai, 11 partai yang berhasil mengumpulkan suara duduk di kursi legislatif tingkat kota Palangka Raya, dengan jumlah 25 orang, 2 diantaranya perempuan. Mereka memperebutkan suara dari 171.714 jiwa penduduk kota Palangka Raya (hasil sensus penduduk tahun 2001). Dengan berbagai janji dan slogan masing-masing agar supaya mendapatkan simpatik dan dukungan dari masyarakat, bahkan menggunakan cara apapun termasuk memberikan uang berkedok ”bantuan”. Jumlah pemilih yang memilih untuk daerah Kota Palangka Raya, adalah 78.254 dengan jumlah pemilih laki-laki 39.110 dan jumlah pemilih Perempuan 39.144. Sementara jumlah pemilih terdaftar yang tidak memilih sebanyak 46.545 dengan jumlah pemilih laki-laki 24.169 dan pemilih prempuan 22.376. KARENA Selama ini, KITA hanya dipergunakan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan, KARENA ITU sekarang kita harus mengatakan TIDAK LAGI dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa. Sudah saatnya KITA MENGORGANISIR DIRI KITA SENDIRI untuk memperjuangkan hak-hak kita, melakukan negosiasi persetujuan komitmen yang jelas terhadap siapa yang kita pilih untuk duduk memperjuangkan hak-hak kita di Legislatif !!  blog diary of:  Anse Srineni Erlynova