Saatnya HATI NURANI bicara


Pertambangan Renggut Sisi Kemanusiaan by ratna ariani
November 21, 2008, 2:16 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Luas kabupaten Manggarai hanya 7.136,4 km2. Kendati begitu sejak tahun 1980, tanah yang menjadi rumah mereka telah tersentuh pengusaha tambang. Menurut Mikael Peruhe dari Justice, Peace of Creation Ordo Fratum Minorum (JPIC-OFM), hingga tahun 2007 terdapat 20 Kuasa Pertambangan (KP) di kabupaten itu.

Dalam diskusi media yang difasilitasi Jatam (Jaringan Pertambangan), Rabu (19/11) Mikael menjelaskan dampak kerusakan pertambangan, yaitu terancamnya satu-satunya sumber mata air masyarakat Jengkalang oleh longsoran galian lokasi penambangan Mangaan, punahnya perkampungan, rusaknya kawasan hutan lindung, eksploitasi terhadap buruh yang sebagian besar adalah masyarakat lokal, dan terhentinya kunjungan wistawan asing di pantai Katebe.

Lebih jauh Mikael mengatakan, pertambangan juga mengancam kesehatan masyarakat. “Ibu-ibu yang bekerja di tempat processing tanpa menggunakan masker karena masker yang dibagikan dari perusahaan hanya bisa bertahan 4-5 hari. Tahun lalu terdapat 19 ibu-ibu diperiksa di rumah sakit yang terkena penyakit aneh, seperti mulai merasa ada benjol-benjol dan pembengkakan di alat kelaminnya,” ungkap Mikael. Ia menambahkan, lokasi pertambangan yang sangat dekat dengan perkampungan menyebabkan kotornya semua peralatan masyarakat. “(Dari) hasil pemeriksaan darah telah terkontaminasi dengan debu Mangaan sehingga berwarna hitam dan juga mengakibatkan munculnya ISPA,” imbuh Mikael.

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah atas kerusakan lingkungan yang kerap diabaikan? Chalid Muhammad, aktivis lingkungan yang juga penggerak massa mengatakan, pemerintah pusat dan daerah sudah saatnya mengevaluasi seluruh kebijakan di era otonomi daerah yang kerap mengancam kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. “UU Pertambangan yang menimbulkan beda intepretasi antara pemda dan pemerintah pusat harus segera merumuskan policy nasional tentang penghematan aneka tambang. Sehingga jelas wilayah mana yang bisa ditambang dan mana yang tidak,” tegas Chalid.

Kekerasan terhadap lingkungan selalu menyisakan penderitaan berkepanjangan bagi siapapun, perempuan, laki-laki, dan anak-anak. Kerusakan ini juga menjadi indikator terputusnya mata rantai kehidupan selanjutya. Atas kondisi ini perempuan seringkali menjadi korban terdepan bila pemerintah lalai akan keberadaan mereka (perempuan-red).Jurnalperempuan.com [ Jurnalis : Nur Azizah]



Era Bisnis Berbasis Lingkungan: Jangan pilih partai yang tidak punya program lingkungan by ratna ariani
August 1, 2008, 12:18 am
Filed under: artikel, lingkungan hidup, politik | Tags: , , ,

Pemilu 2009 akan digelar, beberapa dari Anda masih ragu untuk memilih partai mana yang akan dipilih nanti. Jika Anda adalah salah seorang yang sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan saat ini dan masa depan, tentunya Anda akan berhati-hati dalam memilih partai. Celakalah kita, jika mayoritas partai pemenang pemilu adalah partai yang tidak memiliki wawasan tentang lingkungan. Ciri-ciri partai yang tidak punya perhatian besar pada masalah lingkungan, antara lain adalah

  1. Dalam struktur organisasi tidak ditemukan bagian atau seksi yang menangani masalah lingkungan dan energi secara khusus.
  2. Tidak menyebutkan salah satu visi atau misinya berkaitan tentang lingkungan.
  3. Jika mereka memiliki Badan Penelitian dan Pengembangan, tidak ada seksi atau bagian yang menangani masalah lingkungan
  4. Dalam kampanye, khususnya program yang diajukan kepada pemilih tidak ada menyinggung tentang lingkungan, pemberdayaan hukum lingkungan, dan statement khusus tentang lingkungan.
  5. Dalam Dewan Pakar atau pembina, tidak ada seorang pakar lingkungan yang dikenal.

Kalau hanya sekedar aktifitas menanam pohon, anak TK dan SD juga sudah biasa! Partai yang akan kita pilih diharapkan dapat memiliki visi misi dalam sustainable development atau pembangunan berbasis lingkungan dan sejenisnya. Maka visi misi itu harus dijelaskan agar kita dapat meminta pertanggung jawaban mereka pada saat mereka telah duduk di Dewan Perwakilan Rakyat/ DPD/ DPRD.

Saya baru menelusuri beberapa website partai politik yang akan ikut bertarung dalam pemilu 2009, alhasil beberapa partai yang kini ikut dalam pemilu tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan. Bahkan Partai Demokrat, partainya Bapak Presiden kita (SBY) tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan (huebat kan!). Continue reading



Peduli Lingkungan: It’s about attitude by ratna ariani
July 24, 2008, 1:15 pm
Filed under: lingkungan hidup | Tags: , ,

Saat menghadiri pembukaan Green Festival 19 April 2008 di parkir timur Senayan, ada dua kejadian yang menarik. Yang pertama tentang masalah transportasi. Saya terpaku di sebuah foto besar di paviliun GARASI. Foto ini dibuat untuk mengilustrasikan perbandingan yang dibuat 72 orang dalam berkendara. Dengan perbandingan pemakaian kendaraan di Jakarta, mereka membutuhkan 42 mobil yang membutuhkan ruang 700 m2. Emisi gas buang-nya per orang per kilometer 15 x lebih banyak dari bis. Sedangkan kalau naik sepeda motor dibutuhkan 60 buah yang memakan tempat sekitar 90 m2.

Emisi nya 7,5 x dari bis. Naaah.. kalau naik bis, semua bisa terangkut naik bis sekali jalan, tentunya ada yang berdiri juga. Cuma butuh 30 m2 itupun tidak permanen, karena bis tidak pernah parkir kecuali di pool-nya. Bisakah ditebak, mana yang akan kita pilih kalau ada di tengah kesemrawutan lalu lintas Jakarta?

Bukan hal mudah untuk berpindah moda transportasi apalagi kalau kita memang punya banyak pilihan. Saya bersyukur sudah melalui saat-saat sulit itu. Sejak bulan maret, jadi sudah  lima bulan kami berhasil ‘mengandangkan’ satu dari dua mobil untuk mobilitas sehari-hari. Continue reading



Hari Anak Nasional: Dipestakan atau Disikapi? by ratna ariani
July 24, 2008, 4:28 am
Filed under: pendidikan | Tags: , , ,

Anak tetap lah anak, mau dia ada di rumah gedongan, di gang-gang sempit ataupun di jalanan. Keinginan bermain, menggoda teman, berkejar-kejaran dan bahkan bermain hujan adalah kesukaan anak-anak. Hanya saja untuk anak-anak tertentu hak mendasar inipun sulit dipuaskan, bahkan diusia dini mereka dimasukkan sebagai alat ekonomi pencari uang. Sedih juga melihat liputan di Metro TV, anak-anak indramayu dibawah 10 tahun diijinkan menggelandang di Jakarta, agar bisa mendapat makanan lebih baik dari pada dikampungnya. Mereka tidak mau sekolah, tangannya capek dipakai menulis terus katanya. Mending dijalanan malah dapat duit. Memang lumayan untuk ukuran mereka, bisa bayar ‘sewa kontrakan’, main game dan beli rokok !

Kemarin saat menghadiri perayaan Hari Anak Nasional di Tennis In Door Senayan, saya merasakan aura sukacita luar biasa. Saya datang kesana gak sengaja, hanya karena kawan aktivis berhalangan, maka saya diminta mewakili Gempita-Gerakan Iman Peduli Jakarta. Tengok kiri kanan yang duduk di VIP ternyata saya sendiri yang tidak pakai pakaian dinas. Halah? Acara nya sih sebentar, cuma sejam tapi meriah banget. Bukan karena ada Bang Foke dan Mpok Tati disana. Bukan karena panggung yang wah dan Project Pop yang ‘gw banget’ (Heran…..udah pada berumur, tetap aja kelakuannya bisa diterima anak-anak SD sampai SMA. Salut untuk alumni UNPAR… halah..narsisnya jadi d 8)

Tapi menurut saya inilah ‘panggung’ yang sungguh-sungguh menjadi pesta bagi anak-anak yang tidak pernah memimpikan dipestakan dan mengisi acara pesta buat mereka sendiri. Ada ratusan anak ikut terlibat dalam berbagai tarian kreasi disetiap lagu-lagu project Pop, menari dengan senyum ceria serta berkostum colourful. Ternyata mereka bukan dari sekolah-sekolah papan atas, bukan juga dari sanggar sekolah tari, Continue reading