Saatnya HATI NURANI bicara


Kami Juga Seorang Muslim by ratna ariani
March 21, 2010, 5:19 pm
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Berikut ini saya postingkan tulisan seorang rekan yang menyuarakan pemikiran di halaman facebooknya. Saya tidak bermaksud mempertentangkan antar ideologi, tetapi hanya mengajak kita semua membuka hati dan memiliki wawasan luas untuk menerima mereka. Terutama mereka yang berbeda orientasi seksualnya sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan dan terlebih lagi sebagai sesama warga negara Indonesia yang memiliki hak dan kedudukan yang sama dimata hukum. Mereka termasuk golongan minoritas yang akhirnya menjadi korban mayoritas – korban tindakan kita juga. Padahal siapakah diantara kita yang berhak menghakimi sesama manusia? – RA

Tulisan ini sebuah refleksi diri saya sebagai aktivis gay yang sampai sekarang masih seorang muslim. Ini bermula ketika membaca berita soal kecaman keras dari para ulama Aceh ketika para Waria melakukan kegiatan malam sosial yang diselenggarakan di Auditorium RRI cabang Banda Aceh, Sabtu malam pada 13 Februari 2010. Para ulama dengan berbagai argumentasi mengecam kegiatan sosial yang dilakukan oleh teman-teman waria tersebut. Menurut Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk Faisal Ali di Banda Aceh bahwa kegiatan itu telah menodai pelaksanaan syariat Islam di Aceh,” kata Faisal.(www.antara.co.id)
Komentar-komentar miringpun terus berkembang setelah kegiatan tersebut, baik dimasyarakat langsung maupun melalui internet. Hujatan sebagai kelompok pendosa dan mencemarkan nama baik Aceh dilontarkan kepada para Waria. Ini komentar dari seseorang yang ada di salah satu berita di Internet; Asrul, Minggu, 14-Februari-2010 (www.metrotvnews.com)

TIDAKKAH KALIAN INGAT PADA KAUM SODOM YANG NABI LUTH AS PERNAH DIUTUS? KENAPA MUNCUL LAGI KAUM SEPERTI INI DI JAMAN YANG KATANYA MODERN INI? APAKAH SEJARAH AKAN BERULANG KEMBALI? HAI KAUM WARIA (TERMASUK DORCE DKK), APAKAH KALIAN PUNYA RAHIM? KALAU TAK PUNYA, YA BERARTI KALIAN KAUM ADAM. APAKAH KALIAN LEBIH TAHU DAN PINTAR DARIPADA SANG PENCIPTA? KALAU MEMANG DEMIKIAN, MENGAPA KALIAN TIDAK SEKALIAN MEMINTA MENJADI BINATANG, KARENA TOH BINATANG LEBIH BERUNTUNG, TIDAK AKAN DIHISAB DI AKHERAT KELAK.

Kecaman itu bukan hanya berasal dari ulama, masyarakat tetapi sebagian aktivis penegak hak asasi manusia di Aceh. Tuduhan tidak bermoral, meyimpang dari ajaran Islam dan dilekatkan sebagai kelompok pendosa serta pembawa bencana seperti sejarah Luth. Sangat jarang atau bahkan tidak ada kelompok ulama yang memberikan pandangan yang lebih humanis selain hujatan dan hinaan pada kelompok homoseksual dan waria selain sebagai kelompok pendosa. Sepertinya urusan dosa sudah menjadi otoritas para ulama. Minimal itu yang saya dapat dari membaca komentar ulama di beberapa media. Walau sebenarnya tidak semua ulama berpikir hal yang sama. Karena ulama sendiri juga mempunyai perbedaan pandangan untuk berbagai hal termasuk soal bagaimana memperlakukan Waria ataupun homoseksual lebih manusiawi.

Para Waria yang dihujat itu pada umumnya bersuku Aceh serta beragama Islam. Tinggal dan lahir di Aceh. Sehingga penampilannya juga ada yang mengenakan jilbab. Sebagai sebuah bentuk keyakinan untuk menutup aurat atas tubuhnya sebagai seorang Waria. Mereka (Waria) juga menjalankan ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah SWT. Seperti sholat, puasa dan juga berbuat baik pada orang lain. Tidak ada perbedaan ritual ibadah yang dilakukan oleh Ulama dengan teman-teman Waria itu. Keyakinan agama Islam mereka bukanlah keyakinan yang dianggap “sesat” oleh banyak ulama, seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Ustad Roy ataupun aliran Islam lainnya. Waria yang di Aceh adalah seorang muslim yang meyakini umumnya muslim yakini. Tetapi mengapa kebencian ulama Aceh begitu besar pada Waria? Ada apa dengan Waria? Continue reading

Advertisements


Kapan Merdeka dari Kemiskinan? by ratna ariani
August 17, 2008, 5:49 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , ,

Berbagai macam lomba dipersiapkan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan RI di berbagai belahan bumi Indonesia, bahkan dimanapun ada orang Indonesia ngumpul seperti para tentara di Libanon. Dari anak-anak sampai orang dewasa ikut berbagai lomba. Ada lomba kelereng dengan sendok, karnaval dengan sepeda hias, lomba panjat pinang, gebuk bantal sampai lomba bakiak.

Untuk warga sekampung disekitar saya yang padat orang betawi, selain lomba yang biasanya diadakan juga lomba mancing. Sengaja kolam renang dikorbankan untuk diisi dengan 20an kg ikan yang dibeli dari pasar. Hadiah nya ada  HP yang diperebutkan, biar rame lah. Jangan salah, gak mahal kok. Sekarang kan ada beli telur dapat ayam eh salah, beli SIM card dapat HP. Gak seberapa harganya dibandingkan kebersamaan warga.

Sejenak kita bersama-sama melupakan kesulitan dan kepenatan hidup di hari ini. Tapi kalau dipikir apa artinya keceriaan sehari ini dibandingkan pergulatan sebagian besar rakyat Indonesia selama menghadapi sisa hari dalam setahun. Satu hari keceriaan dibandingkan 364 hari lainnya? Bolehkah mereka berharap semoga di perayaan Kemerdekaan tahun depan, mereka tidak terlalu miskin dibandingkan hari ini? Semoga perayaan proklamasi kemerdekaan di tahun mendatang benar-benar layak dirayakan manakala hak warganegara yang paling dasar untuk hidup layak bisa terpenuhi.

Berbicara soal jumlah rakyat miskin di Indonesia, ada perbedaan yang mencolok antara Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Bank Dunia mempublikasikan bahwa terdapat sebanyak 110 juta jumlah rakyat miskin di Indonesia, atau 48,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang sekarang ini terhitung 225 juta penduduk. Akan tetapi, data dari BPS yang disampaikan oleh Deputi Statistik Sosial Dr. Rusman Heriawan menyatakan, diperkirakan jumlah orang miskin akan berkurang 2 persen dari angka saat ini, yakni 36 juta orang (Koran Tempo, 19 Agustus 2005). Artinya, jumlah orang miskin di Indonesia hanya 16 persen dari jumlah penduduk.[Sinar Harapan] Continue reading