Saatnya HATI NURANI bicara


Dari Sabang Sampai Merauke by ratna ariani
October 17, 2008, 8:02 am
Filed under: politik | Tags: , , , ,

Sementara anak-anak SD masih menyanyikan lagu ini dengan kata-kata yang sama di jaman kita kecil, lagu Dari Sabang Sampai Merauke sekarang ini bukan hanya jajaran pulau-pulau saja. Dalam minggu ini dua berita headline menyeruak dari ujung barat dan ujung timur Indonesia, dari daratan tanah Serambi Mekah dan tanah Papua. Tumpukan satu demi satu kekecewaan dan kegetiran yang saling tumpang tindih tidak terselesaikan bertahun-tahun kali ini muncul kembali. Kejadian ini kembali berulang seperti api dalam sekam yang tinggal menunggu waktunya meledak. Lagu ini menjadi lagu sendu nasionalisme ditengah 100 tahun kebangkitan nasional.

Hasan Tiro kembali pulang ke Aceh dan ditengah hiruk pikuk handai tolan dan para simpatisannya dalam upacara ‘silaturahmi’ di tanah kelahiran itu,  berkibarlah bendera GAM , Gerakan Aceh Merdeka. Di saat rindu kampung halaman, disitulah juga timbul kerinduan akan impian yang tertimbun dalam hati selama bertahun-tahun.

Di saat yang hampir bersamaan, hari rabu lalu diujung timur  berkibaran bendera Bintang Kejora. Seorang kawan menyampaikan jika selama ini pengibaran bendera Bintang kejora sering terjadi di daerah pegunungan (daerah Paniai, Mimika dsk), maka sekarang gerakan ini sudah bergerak ke daerah pantai dan masuk ke jantung pemerintahan. Bendera-bendera tersebut dikibarkan di halaman kantor Bupati, kantor DPRD, kantor pariwisata dan di pasar Kalibobo di Nabire. Bendera-bendera tersebut dipasang pada dini hari, ketika listrik tiba-tiba padam. Kok ya  kebetulan padam?

Reaksi para pejabat rupanya senada, baik yang di barat pun di timur. No action, business as usual. Sedih sekali, penderitaan dan kepedihan bertahun-tahun tidak ada tanggapan. Seolah kehidupan mengalir begitu saja seperti angin lalu. Apapun alasan para pejabat tersebut, tetap ada sekolompok orang yang ingin menyatakan keinginannya untuk melepaskan diri. Terlepas apa hasil yang telah dicapai dalam puluhan tahun terakhir ini, gerakan separatisme masih menjadi ancaman bangsa ini. Sementara krisis global sudah didepan mata, dan semua jajaran elit parpol sedang sibuk mendandani diri menjual jatidiri dan janji terbaiknya menjelang kampanye, lalu siapakah yang perduli dengan suara sebagian anak bangsa yang merasa dianaktirikan di ‘rumah’nya sendiri?

Dimana rasa ‘send of crisis’ para pemimpin bangsa ini? dimana kah hati ibu pertiwi yang menengok dan memperhatikan setiap jeritan anak-anaknya? Tidak adakah upaya untuk mendengar dan berdialog serta mencari solusi bersama agar tercapai win-win solution ? Musyawarah  rasanya masih menjadi barang langka. Akhirnya kita cuma bisa menjawab lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” yang mencemaskan ini dengan lagu “Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang…”

Maafkan aku bunda. Aku hanya bisa mengusap air matamu, belum bisa membuatmu tersenyum.

Advertisements


Saatnya Indonesia Nyalip di Tikungan by ratna ariani
October 14, 2008, 9:24 am
Filed under: artikel | Tags: , , , , ,

Tulisan pak Dahlan Iskan, bos Jawa Pos ini, bisa membantu kita memahami dampak krisis amerika terhadap uangdi dompet dan berbagai tabungan hasil keringat kita. Semoga menjadi pencerahan dan tidakmembuat para manajer keuangan keluarga menjadi panik.(RA)

Tepat sekali langkah pemerintah Indonesia menghentikan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kemarin. Terlambat sedikit, kita bisa lebih kacau. Inilah saatnya kita mendahulukan nasib bangsa sendiri. Kita tahu, perusahaan asing lagi perlu uang untuk menutup lubang mereka yang dalam di negeri masing-masing. Karena itu, mereka perlu uang cepat. Salah satu caranya adalah menjual apa saja yang dimiliki, termasuk yang di Indonesia. Dan, yang paling cepat bisa dijual adalah saham di bursa.

Saking banyaknya pihak yang mau menjual saham itulah yang mengakibatkan harga saham jatuh 10 persen kemarin. Mereka berani menjual murah, menjual rugi, asal bisa segera mendapat uang cash. Sebenarnya
sekaranglah saatnya membeli kembali saham Indosat, Telkomsel, atau apa pun, tapi kita belum cukup kaya untuk melakukan itu.

Penutupan sementara bursa itu juga penting untuk mengamankan perusahaan-perusaha an nasional kita. Yakni, perusahaan yang terlibat utang besar di luar negeri yang jaminannya berupa saham. Misalnya, Bumi
Resources dan enam perusahaan milik Bakrie Group lainnya. Termasuk kebun sawitnya yang besar. Kalau harga sahamnya terus merosot, nilai jaminan utangnya langsung tidak cukup. Dalam keadaan seperti ini sangat mungkin terjadi hostile take over! Sangat bisa terjadi, tiba-tiba  saja tambang batu baranya yang begitu besar disita dan menjadi milik asing. Demikian juga perkebunan sawitnya. Continue reading



Aku Cinta (Produk) Indonesia by ratna ariani
August 31, 2008, 4:44 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , ,

Masih ingat kisah heboh perang comment di jagad maya gara-gara lagu “Rasa Sayange” dipakai promo pariwisata negeri jiran? Akhirnya menjalar ke urusan tari saman, angklung sampai batik. Susah memang kalau bicara ‘copy right’, akhirnya tergantung siapa yang (lebih dulu) mau mendaftarkan dan di negara mana.  Nah kalau harus didaftarkan ke semua negara, ongkos siapa ya ? Terlepas soal copy right, biarlah itu menjadi urusan para penasehat hukum dan ahli budaya, kasus ini menunjukkan  bahwa kita sedang dalam proses mencari identitas bangsa. Maka saat ada bangsa lain meng’claim’ sesuatu yang mirip serupa dan sebangun dengan yang sudah dimiliki bangsa ini, kita menjadi reaktif karenanya.

Cinta bangsa dan negeri sendiri wajarnya memang harus dimiliki setiap warga negara. Gak orang amrik, orang china sampai zimbabwe punya kecintaan tersendiri pada negrinya. Rasa nasionalisme perlu ditumbuhkan dan dipelihara sedari muda dengan memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil dan melalui tindakan sehari-hari. Contohnya tentang keputusan dalam memilih dan menggunakan barang-barang yang ada disekitar keseharian kita. Orang china dan jepang sangat mencintai dan bangga dengan produk dalam negerinya. Gimana dengan kita ?

Didalam rumah biasanya para ibu lah yang menentukan segala produk yang dipakai oleh anggota keluarga. Kalau memang kita mau mengajarkan nasionalisme pada anak-anak, mari kita juga sedikit berusaha mempelajari setiap proses produksi  dan pengadaan setiap barang yang akan kita pakai. Untuk buah-buahan import tentu ditanam di luar negeri dan menggunakan tenaga kerja setempat (china,vietnam,australia dsb). Packagingnya membutuhkan biaya extra termasuk ruang pendingin. Sudah harganya mahal akibat biaya shipping and handling, kita masih kebagian ‘sampah’nya. Semua bekas kayu dan styrofoam sisa packagingnya tercampak di Indonesia kan? Naah..dari pada beli buah import lebih baik beli buah lokal yang ada di pasar sekitar kita saja. Atau kalau malas ke pasar becek, kalau ke supermarket pilihlah buah produksi dalam negeri saja. Inget lagu : papaya, mangga, pisang jambu? Dibeli dari pasar minggu. Sekarang pasar minggu bukan lagi sentra buah, tapi gak ada salahnya kita beli buah produk lokal. Selain memelihara kesehatan, lebih murah dari buah import, kita juga ikut membantu para petani lokal untuk memperpanjang hidupnya.

Demikian juga dengan pakaian yang kita gunakan. Daripada beli yang bermerek-merek hanya untuk membayar royalty para pemegang lisense serta sewa ruang pamer di mall yang mahal, lebih baik beli batik yang semakin mudah terjangkau, dan bisa dipakai dalam segala acara. Orang yang mementingkan ‘gengsi’ pake barang bermerek, bisa dipertanyakan nasionalisme nya. Beli produk dalam negeri aja malu, jangan-jangan nanti dia malu mengaku orang Indonesia. Daripada adu argumen, lebih baik saling berlomba membuktikan cinta Indonesia dengan membeli, memakai dan promosi barang Indonesia. Soal mutu? kalau industri maju pasti mutu menjadi lebih baik. Itulah gunanya kompetisi.

Design batik semakin modis dan kainnya semakin halus. Melalui kompetisi sehat akhirnya hargapun  bisa bersaing. Selain lebih ekonomis dibanding pakaian import, kita ikut membantu 800 ribuan perempuan yang hidupnya ada di industri batik dalam negeri. Tapi teliti dulu sebelum membeli, cek dulu labelnya, karena china pun memborong produksi batik untuk dijual di Indonesia [detik]. Duuh…



Poligami, Masalah Abadi Perempuan by ratna ariani
August 9, 2008, 7:15 pm
Filed under: artikel | Tags: , , ,

JAKARTA, SELASA -KOMPAS- Berbicara tentang persoalan perempuan, ternyata dari dulu (tahun 1920-an) hingga sekarang ada satu hal yang selalu menjadi sorotan, poligami. Setidaknya, hal itu diamini oleh 3 tokoh perempuan, Ayu Utami (penulis novel), Mariana Amiruddin (Jurnal Perempuan) dan Agung Ayu Ratih (Lingkar Tutur Perempuan).
Ketiganya mengungkapkan pemikirannya tentang perempuan dan kebangkitannasional, dalam peluncuran buku “Sejarah Perempuan Indonesia” karya Cora Vreede-de Steur dan “Prajurit Perempuan Jawa” karya Ann Kumar, di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Pusat, Selasa (20/5).
Kalau kita lihat, persoalan perempuan dari dulu sampai sekarang tidak bergerak atau linear. Berkutatnya di persoalan poligami, yang masih menjadi isu sentral dan sensitif. Termasuk dalam buku ini (sambil menunjukkan buku “Sejarah Perempuan Indonesia”. Tahun 1920-an ternyata poligami juga sudah menjadi masalah sensitif,” ujar Ayu Utami.
Padahal, kata Ayu, ketika berbicara tentang perempuan yang sering terlupakan adalah penghancuran gerakan perempuan. Tak ada catatan yang rigid tentang gerakan kaum perempuan di masa lalu. “Padahal, kalau kita lihat apa yang dipikirkan atau dituangkan Budi Utomo (tokoh Kebangkitan Nasional) itu seringkali juga mengutip pemikiran Kartini. Tapi tidak ada yang mengungkap itu,” katanya. Continue reading