Saatnya HATI NURANI bicara


Pornografi Di Dunia by ratna ariani
October 7, 2008, 5:10 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Kalau melihat perlakuan di berbagai belahan dunia, ternyata bahwa di sebagian besar negara di dunia ada pengaturan pornografi.  Dan pengaturannya berbunyi demikian:
PORNOGRAFI LEGAL UNTUK ORANG DEWASA dan ILEGAL UNTUK ANAK-ANAK. Cukup singkat, jelas dan masuk akal tidak seperti RUU Porno yang bertele-tele, kabur dan irasional. Berikut adalah beberapa data negara-negara yang tidak melarang pornografi untuk orang dewasa:

1. Australia: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak.
2. Austria: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak di bawah umur 16 tahun.
3. Brazil: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak di bawah umur 18 tahun.
4. Canada: bentuk “hard core” legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak di bawah umur 18 tahun.  Film porno boleh diputar di televisi setelah jam 12 malam.
5. Denmark: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak di bawah umur 18 tahun.
6. Finlandia: legal untuk orang dewasa.  Majalah “soft porn” diperbolehkan untuk anak-anak di usia 15 tahun ke atas.
7. Perancis: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak, dibolehkan ada film porno di bioskop tertentu.
8. Jerman: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak di bawah umur 18 tahun.  Definisi pornografi adalah “hard core”.
9. Yunani: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak.
10. Hongkong: legal untuk orang dewasa dan ilegal untuk anak-anak di bawah umur 18 tahun. Tidak boleh dijual di muka umum dan majalah porno harus dibungkus. Continue reading

Advertisements


Ktut Tantri: Perempuan Pejuang Indonesia yang Bukan Indonesia by ratna ariani
August 17, 2008, 5:22 am
Filed under: resensi buku | Tags: , , , , , ,

K’tut Tantri merupakan penulis dari buku yang merupakan biografinya .
Pertama kali terbit 1960 dengan judul “Revolt in Paradise,” yang kemudian diterjemahkan dalam edisi Indonesia menjadi “Revolusi di Nusa Damai.” Sebuah otobiografi yang sudah diterjemahkan lebih dari 12 bahasa. Dalam penulisannya buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : Melanglang Buana, Firdaus Yang Hilang, Berjuang Demi Kemerdekaan.
Perempuan bernama asli Muriel Pearson ini merupakan warga negara Amerika Serikat kelahiran Inggris, seorang seniman yang suatu siang di tahun 1932 menonton film, “Bali-The Last Paradise” di Hollywood. Begitu terkesannya, dia langsung jatuh cinta dengan Bali dan bertekad memulai hidup sebagai artis bohemian di sana.

Wanita ini telah menganggap bahwa Indonesia adalah tanah airnya. di bilang pejuang karena Ia rela berkorban ikut perang kemerdekaan di tahun 1945. di bilang Intelegent, karena banyak perannya ia sebagai spion untuk kemerdekaan Indonesia, bahkan dengan bantuannya ia bisa menyelundupkan senjata untuk membantu Tentara Indonesia.
Bagian pertama buku ini menceritakan kisah saat Ia menjual seluruh hartanya dan rela menempuh perjalanan ribuan mil dengan kapal, menuju Batavia.
Kisah perjalanan dia yang dimulai dengan mengendarai mengendarai mobil seorang diri menyusuri jalan di pulau Jawa yang gelap dan rawan dengan ‘begal’ atau perampokan. Beruntung ia bertemu dengan Pito, seorang anak kecil yang menjadi penunjuk jalannya menuju pulau dewata, Bali. Agaknya jalan kehidupannya sudah ditentukan oleh dewa-dewa Bali ketika bahan bakar mobilnya habis, dan berhenti di sebuah pura kerajaan di sana.

Diangkat jadi anak Raja Bali Continue reading



Cinta Tanah Air: Tidak Apatis, Tidak Apolitis by ratna ariani
August 16, 2008, 3:28 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , ,

Banyak pertanyaan dilontarkan sepanjang tahun 2008 ini mengenai kadar nasionalisme di generasi yang ada, baik mereka yang berusia 40an tahun sampai yang muda. Apakah semangat reformasi 10 tahun lalu masih relevan dan masih perlu diperjuangakan? Sudah sejauh mana keberhasilannya? Bagaimana juga tingkat nasionalisme yang ada sekarang bila dibandingkan dengan gerakan Kebangkitan Nasional yang lahir seratus tahun lalu? Apakah cukup berhenti sebatas seremonial saja? Kelompok pengamat kebudayaan banyak yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia sedang menderita amnesia beberapa tahun ini. Kita mudah sekali lupa dengan berbagai masalah dan tidak pernah selesai sampai tuntas. Bisa juga tidak mau ingat yang susah-sedih, lebih baik lupakan saja. Atau sengaja bikin orang lain lupa dengan mengganti berita2 di ‘head line’ media cetak dan elektronik setiap harinya.

Akhirnya kita melihat kemajuan teknologi dalam seratus tahun ini khususnya peranan media sebagai sarana komunikasi sangat menentukan dalam menanamkan dan mengembalikan rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak, audio visual, internet dan telekomunikasi perlu dimanfaatkan dan juga diingatkan peran para praktisi didalamnya agar tidak terjebak pada pola kapitalisme.

Kita bisa saja tidak seuju atau tidak puas dengan kinerja aparat pemerintahan, entah itu di tingkat pusat maupun daerah. Tapi kita harus memisahkannya dengan tetap mencintai tanah air ini. Kalau bukan kita bangsa Indonesia yang peduli, tidak mungkin bangsa lain peduli kecuali memang ada maksud politis atau ekonomi dibelakangnya. Kita harus lebih berani memberi kesempatan mereka yang memang mampu memperbaiki kondisi negara ini. Continue reading