Saatnya HATI NURANI bicara


Pidato Pelantikan Presiden Obama by ratna ariani
January 21, 2009, 6:36 am
Filed under: artikel | Tags: , ,

My fellow citizens:

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because we the people have remained faithful to the ideals of our forebears, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans. Continue reading

Advertisements


Pidato Kemenangan Obama by cgjyyh
November 5, 2008, 3:11 pm
Filed under: politik | Tags: ,

If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.

It’s the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen; by people who waited three hours and four hours, many for the very first time in their lives, because they believed that this time must be different; that their voice could be that difference.

It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Latino, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled – Americans who sent a message to the world that we have never been a collection of Red States and Blue States: we are, and always will be, the United States of America.

It’s the answer that led those who have been told for so long by so many to be cynical, and fearful, and doubtful of what we can achieve to put their hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a better day. Continue reading



Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan Antara Ras dan Gender (Gadis Arivia) by ratna ariani
August 30, 2008, 4:22 am
Filed under: politik | Tags: , , , , , ,

Inilah serunya pemilu kalau hanya dua partai: Demokrat, Republik plus Independen. Yang terjadi adalah perebutan dan pertarungan antar kualitas. Mereka saling menajamkan visi dan programnya. Semakin banyak partai maka semakin sulit untuk mendapatkan pemimpin berkualitas. Saya sempat kesengsem mendengarkan pidato Michele Obama, so down to earth. Seandainya saja semua ibu pejabat di Indonesia dari tingkatpusat sampai daerah seperti ini, bisa terjadi kebangkitan nasional kedua nih. Tapi memang proses panjang masih harus ditempuh Indonesia yang relatif baru belajar demokrasi 10 tahun, jauh banget dibandingkan dengan amrikyang sudah di atas 200 tahun. Paling tidak kita bisa belajar dan memetik hikmahnya dari mereka(.Terima kasih mbak Gadis lewat pencerahannya, memang keberpihakan gender tidak berhenti pada soal memilih perempuan tetapi lebih kepada karya nyata yang diberikan kepada rakyat khususnya perempuan dan anak-anak sebagai kelompok yang biasanya tersingkirkan (RA).

Konvensi Partai Demokrat ditutup oleh Barack Obama pada tanggal 28 Agustus 2008 dengan pidato yang mengguncang rakyat Amerika. Stadium Denver yang megah menghadirkan 85.000 pendukung Barack Obama. Para pendukung ini sebelumnya telah disuguhkan oleh pidato-pidato yang bersejarah mulai dari
Michelle Obama, Hillary Clinton, Bill Clinton, Al Gore (bekas wakil presiden dan pemenang hadiah nobel) serta banyak tokoh-tokoh inspiratif lainnya seperti Joe Biden, calon wakil presiden Obama. Konvensi ini bertepatan dengan ulang tahun yang ke-88 hak politik perempuan untuk memilih dan ulang tahun yang ke-45, mengenang tokoh pergerakan hak-hak sipil, pejuang anti rasisme, Dr. Martin Luther King.

Malam itu malam yang indah khususnya bagi keturunan Afrika-Amerika yang dengan terharu melihat Obama berdiri di atas podium menguraikan pendapatnya tentang apa yang disebut Amerika di abad ke-21. Amerika menurut Obama sedang berubah *(change)*, hendak menghentikan cara-cara politik masa lalu
yang tidak memihak rakyat, memperkuat ekonomi kelas menengah dan memperjuangkan kesehatan universal agar kesehatan terjangkau untuk semua kalangan. Obama memaparkan latar belakang keluarganya yang sederhana, diasuh oleh orang tua tunggal (ibunya), mendapatkan beasiswa hingga ke Harvard dan
menampik pekerjaan menjadi pengacara top, lalu, memilih bekerja di LSM di Chicago untuk orang-orang miskin dan kini menjadi kandidat presiden Amerikan pertama yang berkulit hitam, “inilah yang disebut dengan *the American dream!,”* Obama berkata lantang. Baik Obama dan Michelle berterima kasih
kepada Amerika yang telah memungkinkan mereka (anak dari keluarga latar belakang biasa) bisa mengenyam pendidikan terbaik sehingga bisa menjadi anggota masyarakat yang berkontribusi pada negaranya. Inilah sebabnya ia mau dan siap menjadi pelayan rakyat, bekerja untuk rakyat untuk masa depan
Amerika. Continue reading