Saatnya HATI NURANI bicara


Kematian Ibu adalah Kemunduran Bangsa by ratna ariani
December 1, 2008, 12:11 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkan-nya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya?
Mencaci maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan-nya?
Meninggalkan-nya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberika n ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.

SADARILAH bahwa di Dunia ini ga da 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi…
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…
Kirimkan ke 10 orang agar IBU KITA PANJANG UMUR

Mungkin anda mendapat kiriman di atas baik di email, FS, FB dsb. Terkesan sederhana, tapi dalam maknanya bila kita sadar betapa banyaknya ibu-ibu di pedalaman Indonesia (terpaksa) mati karena minimnya sarana dan prasarana. Sudah miskin, mati pula. Lalu siapa yang akan mengurus anak-anaknya yang lain? Maka marilah kita saling mengupayakan apa yang terbaik di lingkungan sekitar kita, agar kehidupan dipelihara dengan layak sehingga bangsa ini bisa melahirkan generasi yang sehat, berbudaya dan berprestasi.[RA]

Sulitnya Mengatasi Kematian Ibu-Anak[KOMPAS] – Yurnaldi

Panas sungguh terik di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (22/11) siang. Sejumlah anak menangis dalam gendongan ibunya. Gerah, barangkali. Mungkin juga lapar. Sebagian, tampak bermain sekedarnya di ruang sempit Posyandu Ottauw, Kampung Sereh.

Ketika pejabat datang, seusai pencanangan Revitalisasi Posyandu dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), anak batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) ditimbang gantung. Sebagian anak memberontak, menangis.

Ada sejumlah anak batita dan balita menderita penyakit kulit serta gizi kurang. Namun, hari itu bukan untuk mendata penyakit tersebut, kecuali untuk menunjukkan aktivitas Posyandu yang dilengkapi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Yoas, seorang ibu (22) berharap bagaimana agar kesehatan anak-anaknya dan juga dirinya bisa lebih diperhatikan. “Selama ini pelayanan kesehatan hanya dilakukan oleh kader Posyandu,” ujar ibu itu. Harapan ibu Yoas, dan juga ibu-ibu lainnya di Jayapura, sama halnya dengan tekad Provinsi Papua, yang mencanangkan Menuju Papua Baru; Ibu Sehat Anak Sehat. Continue reading

Advertisements


Surat Terbuka (ttg Dengar Pendapat RUU Pornografi di Yogya) by ratna ariani
October 18, 2008, 8:48 pm
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Dengan hati pedih saya membaca email ini, walaupun saya orang jawa saya ikut tertusuk dengan perkataan anggota dewan yang terhormat. Saya tidak minta untuk dilahirkan jadi orang jawa, maka saya tidak berhak mendakwa bahwa suku lain lebih rendah atau merasa lebih tinggi dari yang lain. Beginilah kualitas anggota legislatif yang menjadi Ketua PANSUS. Tragis. (RA)

Surat Terbuka dari Yogyakarta, 16 Oktober 2008

Posted by: “dcute_ema” dcute_ema@yahoo. co.id

Kepada kawan-kawanku Bangsa Indonesia

Kawan,

Senin, 13 Oktober 2008 kemarin, saya dan teman-teman Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) mengikuti acara `Dengar Pendapat dalam Rangka Uji Publik RUU Pornografi’. Acara yang diadakan oleh Pansus RUU Pornografi dari DPR berlangsung di Gedung Pracimosono, Kompleks Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketua Pansus RUU Pornografi, Balkan Kaplale, juga datang ke acara itu.

Sekitar enam puluh orang —pro (mayoritas) maupun kontra— hadir sebagai peserta forum. Dalam sesi dengar pendapat pertama, enam peserta dipilih untuk bicara. Acara sudah berlangsung sekitar 1 jam saat seorang kawan dari Papua, Albert, ditunjuk moderator untuk menyampaikan pendapat.

Albert datang mewakili 3000 mahasiswa Papua di Jogja, dan telah meminta ijin pada dewan adat dan tokoh masyarakat Papua untuk mewakili warga Papua dalam menyampaikan aspirasi. Di forum, ia mengusulkan agar RUU Pornografi tidak disahkan. Sebab, RUUP tidak memberi ruang bagi kaum minoritas, dan membuat Negara Indonesia seolah-olah hanya milik sekelompok orang. Jika RUUP disahkan, lebih baik Papua melepaskan diri saja, karena tidak diperlakukan adil.

Saat giliran Pansus bicara, Balkan Kaplale langsung menanggapi pernyataan Albert. Balkan menyapa Albert dengan sebutan “Adinda” dan berkata: “Jangan begitu dong ah..overdosis. .tak usah ngapain keluar dari NKRI. Timor-timur aja perdana menterinya kemaren mengadu ke Komisi 10, nangis-nangis, rakyatnya miskin sekarang. Betul, belajarlah ke Ambon, saya kebetulan dari Saparua loh. Kalau mendengar begini tersinggung! Belajar baik-baik dari Jawa! (diucapkan dengan kencang dan bernada bentakan)”

Balkan juga berkata “Belajarlah baik-baik! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan! (membentak)” Sebagian besar peserta forum langsung tertawa mendengar kalimat itu. Namun kemudian beberapa peserta lain dan para wartawan berteriak, “Rasis! DPR Rasis!!”

Balkan: “Diam dulu nanti kita kasih kesempatan bicara, sampai malam kita di sini! Diam dulu! Ini kan hak Ketua DPR juga dong, Ketua Pansus!” Continue reading



Dari Sabang Sampai Merauke by ratna ariani
October 17, 2008, 8:02 am
Filed under: politik | Tags: , , , ,

Sementara anak-anak SD masih menyanyikan lagu ini dengan kata-kata yang sama di jaman kita kecil, lagu Dari Sabang Sampai Merauke sekarang ini bukan hanya jajaran pulau-pulau saja. Dalam minggu ini dua berita headline menyeruak dari ujung barat dan ujung timur Indonesia, dari daratan tanah Serambi Mekah dan tanah Papua. Tumpukan satu demi satu kekecewaan dan kegetiran yang saling tumpang tindih tidak terselesaikan bertahun-tahun kali ini muncul kembali. Kejadian ini kembali berulang seperti api dalam sekam yang tinggal menunggu waktunya meledak. Lagu ini menjadi lagu sendu nasionalisme ditengah 100 tahun kebangkitan nasional.

Hasan Tiro kembali pulang ke Aceh dan ditengah hiruk pikuk handai tolan dan para simpatisannya dalam upacara ‘silaturahmi’ di tanah kelahiran itu,  berkibarlah bendera GAM , Gerakan Aceh Merdeka. Di saat rindu kampung halaman, disitulah juga timbul kerinduan akan impian yang tertimbun dalam hati selama bertahun-tahun.

Di saat yang hampir bersamaan, hari rabu lalu diujung timur  berkibaran bendera Bintang Kejora. Seorang kawan menyampaikan jika selama ini pengibaran bendera Bintang kejora sering terjadi di daerah pegunungan (daerah Paniai, Mimika dsk), maka sekarang gerakan ini sudah bergerak ke daerah pantai dan masuk ke jantung pemerintahan. Bendera-bendera tersebut dikibarkan di halaman kantor Bupati, kantor DPRD, kantor pariwisata dan di pasar Kalibobo di Nabire. Bendera-bendera tersebut dipasang pada dini hari, ketika listrik tiba-tiba padam. Kok ya  kebetulan padam?

Reaksi para pejabat rupanya senada, baik yang di barat pun di timur. No action, business as usual. Sedih sekali, penderitaan dan kepedihan bertahun-tahun tidak ada tanggapan. Seolah kehidupan mengalir begitu saja seperti angin lalu. Apapun alasan para pejabat tersebut, tetap ada sekolompok orang yang ingin menyatakan keinginannya untuk melepaskan diri. Terlepas apa hasil yang telah dicapai dalam puluhan tahun terakhir ini, gerakan separatisme masih menjadi ancaman bangsa ini. Sementara krisis global sudah didepan mata, dan semua jajaran elit parpol sedang sibuk mendandani diri menjual jatidiri dan janji terbaiknya menjelang kampanye, lalu siapakah yang perduli dengan suara sebagian anak bangsa yang merasa dianaktirikan di ‘rumah’nya sendiri?

Dimana rasa ‘send of crisis’ para pemimpin bangsa ini? dimana kah hati ibu pertiwi yang menengok dan memperhatikan setiap jeritan anak-anaknya? Tidak adakah upaya untuk mendengar dan berdialog serta mencari solusi bersama agar tercapai win-win solution ? Musyawarah  rasanya masih menjadi barang langka. Akhirnya kita cuma bisa menjawab lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” yang mencemaskan ini dengan lagu “Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang…”

Maafkan aku bunda. Aku hanya bisa mengusap air matamu, belum bisa membuatmu tersenyum.



Email Dari Seorang Guru di Nabire by ratna ariani
July 30, 2008, 2:23 am
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Saya sertakan email dari seorang rekan guru matematika ini agar kita bisa membayangkan kesulitan yang dihadapi dunia pendidikan di ujung timur negri ini. Orang miskin disana terpaksa membayar lebih mahal untuk mendapatkan buku paket dibandingkan kita yang hidup dipulau Jawa. Kualitas SDM yang sangat rendah pun menyulitkan mereka keluar dari kemiskinan. Kemiskinan memang bisa terjadi akibat struktural seperti minimnya prasarana. Jangan salahkan pemerintah saja untuk menjadikannya sempurna dalam 5 tahun tapi mari kita lakukan yang terbaik semampu kita bagi negri ini. Walaupun rasanya seperti menggarami lautan, tapi untuk satu dua anak di pedalaman tindakan kita menjadi berarti bagi mereka. (RA)

Mbak Ratna kinasih,

menyambung email kemarin berkenaan dengan buku pelajaran dan khususnya LKS. Jika memang bisa diusahakan di Jawa saya kira juga lebih baik, karena harga di jawa jauh lebih murah. Setelah saya muter-muter, saya dapatkan informasi bahwa di nabire ini harga sebuah LKS matematika untuk kelas 1 bisa mencapai 10 rb/buku (beli minimal 100 buku). Padahal dalam setahun seorang anak butuh 2 buah buku. Jika di Jawa harga eceran paling tinggi 7 rb rupiah. Kenapa bisa demikian? Ya karena transportasi dari jawa ke papua ini memang amat mahal. Lha sekarang mangga saja panjenengan mau bantu saya dan anak-anak untuk mengirim LKS matematika kelas 1 dalam bentuk buku atau mengirim dana dan saya belikan di sini, he…. Jika dalam bentuk uang ya tinggal dikalikan saja: 200 X Rp. 10 rb. Oh ya jangan lupa tolong carikan bahan pembelajaran multimedia karena kami baru dibelikan komputer sehingga anak-anakbisa belajar sendiri. Disini mana ada yang begituan?

Kemarin saya mengadakan tes penjajagan anak-anak kelas 1 SMA yang baru masuk dengan materi matematika kelas 6 SD. Dari 30 buah soal, rata-rata seorang siswa bisa menjawab benar hanya 8 soal, alamakkkkkk …..Kepada mereka saya berikan 30 buah materi soal matematika (soal-soal saya ambil dari contoh-contoh yang tertulis dalam buku paket), dan dari test itu saya dapatkan data sbb: Continue reading