Saatnya HATI NURANI bicara


Maju Jadi Calon Pemimpin? Kunjungi Blog Dulu (Hudan Hidayat) by ratna ariani
August 1, 2008, 11:43 am
Filed under: pendidikan, politik | Tags: , , ,

Sebuah dunia sunyi bernama blog patutlah dikunjungi oleh mereka yang mengangankan diri menjadi pemimpin. Sebab blog menandakan kehadiran seseorang. Seseorang dengan seluruh masa lalunya hadir dalam tulisannya. Tulisan yang serius penuh ide, atau hanya iseng saja.

Mengapa seorang calon yang mau memimpin harus mengunjungi blog bukan kunjungan ke banyak orang dengan segala macam properti, yang terasa bagi banyak orang hanya gerakan menanggung nama di depan media massa, atau di hotel-hotel bintang lima yang terasa pula seolah mengasingkan dirinya dengan banyak orang yang mau ditangguk suaranya – bukankah orang-orang itu ada atau berada di alun-alun bukan di hotel?

Mengunjungi blog terasa sebagai politik ikhlas yang tanpa pamrih – seolah orang bijak yang menginginkan kebenaran suara dari rakyatnya, bukan semata mendengarkan sumber informasi yang sudah disortir sedemikian rupa dari hulubalangnya atau tim susksesnya. Tapi mengunjungi blog tanda juga empati yang tidak dibuat-buat. Semacam humanis bawaan yang tanpa pamrih apapun kecuali ingin menyelam ke dalam keadaan.

Mungkin keluhan tentang dunia pendidikan oleh anak yang dari jawa tengah dengan kode tieanhere pada blognya ini adalah keluhan dari banyak orang juga. Pada blognya hanya ada dua belas orang yang meresponnya – sebuah blog adalah sebuah dunia yang sunyi tapi intim bagi pembacanya yang telah terbentuk. Pada blog di multiply yang bergambar anak-anak itu, seorang pemimpin bisa mereguk sebuah kenyataan yang dihadapi oleh sang anak, kenyataan yang diungkapnya dengan gaya remaja masa kini: sedikit cuek, sedikit ugalan, dan penuh dengan kata-kata dari bahasa indonesia yang memang tak memerlukan suatu undang-undang apapun itu: bahasa slank dari pergaulan remaja sehari-hari.
Dengarlah kata-katanya sendiri di bawah ini-hudan hidayat

Gag Mutu !!! Continue reading



Jeritan Ibu Butuh Buku Gratis by ratna ariani
July 30, 2008, 5:31 pm
Filed under: pendidikan, politik | Tags: , , , ,

Politik tabu bagi perempuan? Ibu-ibu di gambar ini bukan praktisi di bidang politik, tetapi tanpa disadari sudah masuk dalam kancah dunia politik. Politik bukan hanya seputar gedung DPR dan parpol serta pemerintahan. Tapi juga menyangkut dalam hal keseharian perempuan seperti urusan dapur, sekolah, pekerjaaan dan usaha. Peraturan dibuat demi terselenggaranya tatanan kehidupan masyarakat adil dan sejahtera. Manakala kita mulai peka akan terjadinya suatu ketidak adilan, adanya ketidakwajaran bahkan pengalihan tanggungjawab yang tidak semestinya; maka kita tidak bisa tinggal diam. Perlu ada yang bersuara untuk menyatakan mana yang baik dan benar. Kalau aspirasi jeritan para orang tua murid ini kurang didengar oleh para pejabat dan wakil rakyat, maka berbagai sarana bisa digunakan. Segelintir ibu-ibu ini berani bersuara di jalanan, bukan hanya demi kepentingan anak-anaknya tapi juga demi kepentingan para ibu lainnya. Alangkah baiknya jika aturan keterwakilan perempuan juga diikuti di jajaran birokrat, sehingga peraturan yang dibuat pun bisa memperhatikan keprihatinan kaum perempuan. Siapa berani bersuara? (RA)

JakartaDETIKCOM Download buku pelajaran secara gratis ternyata malah membuat sekitar 50 ibu-ibu berdemo di Bundaran HI. Mereka meminta pembagian buku pelajaran gratis! Ibu-ibu ini membentangkan poster-poster berisi protes mereka terhadap pemerintah. Poster itu bertuliskan, ‘Hari gini buku mahal, capek deh’ dan ‘Buku gratis kita senyum manis.’
Mereka juga membentangkan 2 spanduk putih sepanjang 10-20 meter, berisi ratusan tanda tangan dukungan dan tulisan ‘Cabut Permendiknas No 2 tahun 2008 tentang buku yang melegalkan privatisasi perbukuan.’

Download gratis buku pelajaran di internet dinilai tidak mampu menjangkau seluruh kalangan dan tidak efektif. Mereka meminta penjualan buku khususnya buku pelajaran digratiskan. Continue reading



Email Dari Seorang Guru di Nabire by ratna ariani
July 30, 2008, 2:23 am
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Saya sertakan email dari seorang rekan guru matematika ini agar kita bisa membayangkan kesulitan yang dihadapi dunia pendidikan di ujung timur negri ini. Orang miskin disana terpaksa membayar lebih mahal untuk mendapatkan buku paket dibandingkan kita yang hidup dipulau Jawa. Kualitas SDM yang sangat rendah pun menyulitkan mereka keluar dari kemiskinan. Kemiskinan memang bisa terjadi akibat struktural seperti minimnya prasarana. Jangan salahkan pemerintah saja untuk menjadikannya sempurna dalam 5 tahun tapi mari kita lakukan yang terbaik semampu kita bagi negri ini. Walaupun rasanya seperti menggarami lautan, tapi untuk satu dua anak di pedalaman tindakan kita menjadi berarti bagi mereka. (RA)

Mbak Ratna kinasih,

menyambung email kemarin berkenaan dengan buku pelajaran dan khususnya LKS. Jika memang bisa diusahakan di Jawa saya kira juga lebih baik, karena harga di jawa jauh lebih murah. Setelah saya muter-muter, saya dapatkan informasi bahwa di nabire ini harga sebuah LKS matematika untuk kelas 1 bisa mencapai 10 rb/buku (beli minimal 100 buku). Padahal dalam setahun seorang anak butuh 2 buah buku. Jika di Jawa harga eceran paling tinggi 7 rb rupiah. Kenapa bisa demikian? Ya karena transportasi dari jawa ke papua ini memang amat mahal. Lha sekarang mangga saja panjenengan mau bantu saya dan anak-anak untuk mengirim LKS matematika kelas 1 dalam bentuk buku atau mengirim dana dan saya belikan di sini, he…. Jika dalam bentuk uang ya tinggal dikalikan saja: 200 X Rp. 10 rb. Oh ya jangan lupa tolong carikan bahan pembelajaran multimedia karena kami baru dibelikan komputer sehingga anak-anakbisa belajar sendiri. Disini mana ada yang begituan?

Kemarin saya mengadakan tes penjajagan anak-anak kelas 1 SMA yang baru masuk dengan materi matematika kelas 6 SD. Dari 30 buah soal, rata-rata seorang siswa bisa menjawab benar hanya 8 soal, alamakkkkkk …..Kepada mereka saya berikan 30 buah materi soal matematika (soal-soal saya ambil dari contoh-contoh yang tertulis dalam buku paket), dan dari test itu saya dapatkan data sbb: Continue reading



Anak Miskin dan Tak Berprestasi: Siapa Peduli? by ratna ariani
July 27, 2008, 1:12 am
Filed under: artikel, pendidikan | Tags: , , ,

Kalau kita mau peduli untuk menolong anak-anak miskin, rasanya memang tidak perlu bertanya tentang prestrasi mereka. Anak bisa berprestrasi kalau suasana mendukung seperti gizi, sarana belajar dan dukungan orang tua. Jangan harapkan mereka berprestrasi kalau masih disuruh ‘bekerja’ dan bahkan masih jadi korban kekerasan dalam RT. Justru dengan bantuan kita,siapa tahu mereka bisa tambah semangat untuk berani bermimpi untuk keluar dari kemiskinan.

{Suara Pembaruan] Anak-anak dari keluarga tidak mampu mengikuti proses belajar-mengajar di halaman Sekolah Rakyat Miskin, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pemberian beasiswa, pada umumnya selalu dikaitkan berprestasi. Artinya, beasiswa biasanya hanya diberikan kepada siswa secara ekonomi, keluarganya kurang mampu, tetapi menunjukkan berprestasi belajar atau akademik. Di sisi lain, sering kali pemberian beasiswa dikaitkan dengan ikatan dinas dari lembaga pemerintah ataupun perusahaan swasta. Biasanya siswa atau pun mahasiswa yang mendapat program beasiswa ikatan dinas ini, wajib mengabdi di lembaga pemberi beasiswa setelah pendidikannya selesai.

Tetapi, yang jelas, beasiswa ikatan dinas seperti itu, pasti untukanak yang berprestasi. Tentu saja, pemerintah daerah atau lembaga lainnya termasuk perusahaan besar, tidak mau mengambil risiko memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak berprestasi. Lalu, bagaimana dengan yang miskin, tak tidak berprestasi?

Suatu ketika, staf Sampoerna Foundation berkunjung ke redaksi SP menjelaskan kerja mereka dalam mengumpulkan beasiswa. Dengan bangga staf lembaga pengumpul beasiswa dari perusahaan-perusaha an itu menceriterakan jumlah dana yang disalurkan bagi penerima beasiswa tersebut. Kriteria penerima beasiswa, tentu saja yang berprestasi. Ketika ditanya soal program beasiswa bagi mereka yang miskin, namun tidak berprestasi, dengan sinis orang itu mengatakan, ”Sementara yang berprestasi. Kalau yang tidak berprestasi, mungkin ada pihak lain yang mengurusnya’ ‘.

Jawaban seperti itu, tentu bisa menyakitkan bagi mereka yang miskin dan tidak berprestasi lagi. Kalau kriterianya harus berprestasi, sulit bahkan mungkin tidak akan pernah mereka mendapat kesempatan menerima beasiswa.

Berdayakan yang Miskin Continue reading



Perempuan dan Politik by ratna ariani
July 22, 2008, 5:02 am
Filed under: politik | Tags: , ,

Lagi blogwalking ternyata nyangkut di gambar ibu Kartini di blognya Marto Art. Tercenung juga membayangkan sikon para eyang dan mbah buyut putri kita di jaman Ibu Kartini. Seperti apa rasanya ya kalau aku gak boleh sekolah tinggi, seperti apa rasanya kalau aku gak boleh ketemu banyak orang? Perjuangan Ibu Kartini bagi perempuan yang dituangkan dengan tulisan-tulisannya ternyata tidak sia-sia. Persis di era 2008 terbukalah peran perempuan lebih luas di dunia politik, ini semua akibat dari pendidikan yang diberikan kepada kaum perempuan Indonesia.

Ada tulisan menarik dari Cetro tentang keterwakilan perempuan di partai politik dan legislatif tahun 1999-2001( summary.pdf). Ternyata tulisan tersebut dibuat oleh tim yang terdiri wanita semua termasuk bu Nuri Suseno yang menjadi salah satu pengajar di UI. Saya baru bertemu dengan ybs bulan lalu saat ada sarasehan yang diadakan LSM Imadei untuk keterlibatan perempuan di politik. Akhirnya memang UU Pemilu 10/2008 menuntut semua parpol memberikan keterwakilan perempuan, baik di kepengurusan maupun saat pencalegan. Tidak hanya itu, penentuan nomor urut pun harus selang seling antara 2 laki-laki dan satu perempuan.

Ini merupakan loncatan dan terobosan luar biasa bagi perempuan indonesia untuk ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negri ini. Tantangan terbesar adalah melakukan pendidikan politik agar rakyat juga mengambil kesempatan tersebut. Yang pertama apakah para perempuan pemilih yang jumlahnya 57% mau memilih perempuan sebagai sarana aspirasi suaranya. Tantangan kedua adalah bagaimana membangkitkan semangat para perempuan untuk bebenah diri dalam memasuki kesempatan dan ruang yang telah terbuka ini.