Saatnya HATI NURANI bicara


SAFE INDONESIA FIRST ! by ratna ariani
October 14, 2008, 9:39 am
Filed under: artikel, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Dear All, Ini ada email dari tetangga sebelah………..
Ada langkah lain yang perlu kita lakukan untuk menyelamatkan bangsa kita:

1. Yang mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito anda. Jangan ambil uang anda dari bank. Jika anda ikut ikutan mencairkan dana anda maka akan terjadi bank rush, dan krisis keuangan akan semakin parah.

2. Yang memiliki saham dan turunannya, jangan menjual saham dan derivasinya. Jika anda ikut ikutan menjual saham dan turunannya, maka harga saham akan semakin ambruk, dan krisis akan sungguh terjadi semakin parah

3. Jangan ikut ikutan memborong dolar. Jika anda ikut ikutan memborong dolar, maka harga dolar akan semakin tinggi dan rupiah semakin terpuruk. Harga barang impor akan semakin mahal, dan inflasi dalam negeri akan semakin menggila.
\
4. Jangan panik. Jika anda tidak panik, maka krisis akan cepat berlalu. Perekonomian akan cepat pulih. Harga saham akan cepat rebound. Dolar akan cepat menyesuaikan diri pada kurs yang rasional. Cadangan devisa kita cukup kuat. Jika anda panik dan ikut ikutan menarik deposito, menjual saham, dan memborong dolar, maka anda ikut memberikan kontribusi pada semakin dalamnya krisis di Indonesia. Continue reading



Saatnya Indonesia Nyalip di Tikungan by ratna ariani
October 14, 2008, 9:24 am
Filed under: artikel | Tags: , , , , ,

Tulisan pak Dahlan Iskan, bos Jawa Pos ini, bisa membantu kita memahami dampak krisis amerika terhadap uangdi dompet dan berbagai tabungan hasil keringat kita. Semoga menjadi pencerahan dan tidakmembuat para manajer keuangan keluarga menjadi panik.(RA)

Tepat sekali langkah pemerintah Indonesia menghentikan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kemarin. Terlambat sedikit, kita bisa lebih kacau. Inilah saatnya kita mendahulukan nasib bangsa sendiri. Kita tahu, perusahaan asing lagi perlu uang untuk menutup lubang mereka yang dalam di negeri masing-masing. Karena itu, mereka perlu uang cepat. Salah satu caranya adalah menjual apa saja yang dimiliki, termasuk yang di Indonesia. Dan, yang paling cepat bisa dijual adalah saham di bursa.

Saking banyaknya pihak yang mau menjual saham itulah yang mengakibatkan harga saham jatuh 10 persen kemarin. Mereka berani menjual murah, menjual rugi, asal bisa segera mendapat uang cash. Sebenarnya
sekaranglah saatnya membeli kembali saham Indosat, Telkomsel, atau apa pun, tapi kita belum cukup kaya untuk melakukan itu.

Penutupan sementara bursa itu juga penting untuk mengamankan perusahaan-perusaha an nasional kita. Yakni, perusahaan yang terlibat utang besar di luar negeri yang jaminannya berupa saham. Misalnya, Bumi
Resources dan enam perusahaan milik Bakrie Group lainnya. Termasuk kebun sawitnya yang besar. Kalau harga sahamnya terus merosot, nilai jaminan utangnya langsung tidak cukup. Dalam keadaan seperti ini sangat mungkin terjadi hostile take over! Sangat bisa terjadi, tiba-tiba  saja tambang batu baranya yang begitu besar disita dan menjadi milik asing. Demikian juga perkebunan sawitnya. Continue reading



Juntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat Kalau Langit Masih Kurang Tinggi by ratna ariani
October 11, 2008, 12:11 am
Filed under: artikel | Tags: , , , ,
Untuk kita-kita yang awam dengan dunia ekonomi apalagi makro, mungkin tulisan pak Dahlan Iskan, yang bukan ekonom ini, bisa membantu kita menyadari seperti apa kah beratnya tekanan ekonomi dunia saat ini. Paling tidak bisa diperkirakan dampaknya pada neraca belanja dapur dan dompet kita serta tabungan-tabungan yang bermacam-macam seperti saham, dollar dan emas. Pesan moralnya:
(1) enough is never enough, tidak ada kata cukup selama kita tidak bisa mensyukuri apa yang didapat. Yang ada justru menyeret kesengsaraan orang lain
(2) jangan simpan semua telur di satu keranjang. Ditangan perempuan lah yang pertama memikirkan ekonomi keuangan keluarga, baik untuk kebutuhan belanja dan menabung serta investasi untuk masa depan keluarganya sendiri. [RA]

Sumber: Jawa Pos – Minggu, 28 September 2008 : Oleh: Dahlan Iskan

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ”menceritakan’ ‘ secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak. Continue reading