Saatnya HATI NURANI bicara


Fenomena Ponari Sweat by ratna ariani
February 18, 2009, 12:09 pm
Filed under: kesehatan, sosial masyarakat | Tags: , , ,

ponari-sweatKasus Ponari,  10 thn, asal Jombang bak tabib ajaib menimbulkan keprihatinan tersendiri karena menunjukkan bahwa yang menderita  penyakit akut sebenarnya adalah masyarakat miskin. Sindiran ini pun muncul dalam gambar minuman kaleng yang beredar di berbagai milis. Iman dan logika menjadi tanda tanya besar karena rakyat begitu percayanya dengan batu bertuah.  Hanya dengan merogoh kocek 10 ribu sebesar jatah makan sekeluarga hari itu, mereka mau melakukan apa saja bahkan ada beberapa korban tewas untuk mendapatkan air sisa celupan batu bertuah Рasal bisa sembuh dan bisa bekerja lagi. Dalam keadaan miskin, seseorang kepala keluarga yang sakit tidak akan punya penghasilan untuk membayar makan hari itu. Untuk makan saja susah, apalagi untuk membayar obat yang di puskesmas tidak ada dan harus ke rumah sakit yang jauh dan mahal pula. Maka disaat ada peluang untuk sembuh instan dengan biaya murah, maka itulah salah satu pengobatan alternatif yang ada. Itulah kabar baik yang ingin mereka dengar: si sakit bisa sembuh. Kabar buruknya : belum bisa dilakukan saat ini.

Dalam kondisi saat ini, dimana pemerintah belum mampu menekan biaya medis sehingga masih terasa mahal bagi mereka yang kurang mampu. Suburnya pengobatan alternatif memberikan harapan untuk sembuh, apalagi instan dan murah, menjadi pilihan banyak orang saat. Continue reading

Advertisements


PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU by ratna ariani
January 23, 2009, 6:59 am
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Cinta adalah suatu misteri. Saya bagikan kisah yang saya dapat via email, benar tidaknya walahualam, karena penulisnya unknown. Moral of the story : Kita tentu kecewa saat menyadari bahwa cinta yang kita harapkan ternyata jauh dari kenyataan. Marilah kita lebih mengasihi daripada minta dikasihi dan dicintai sesering mungkin, tanpa menunggu semua menjadi terlambat. (RA)

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Continue reading