Saatnya HATI NURANI bicara


Indonesia Bebas Asap (Rokok) by ratna ariani
December 3, 2008, 7:01 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Untuk membangun dan memelihara keluarga Indonesia yang sejahtera, perlu diciptakan lingkungan yang sehat. Saya setuju sekali dengan gerakan “Stop Merokok” daripada “Kurangi Merokok”. RUU pengendalian dampak tembakau gagal masuk agenda DPR karena banyak anggota DPR perokok, apalagi di DPRD tidak banyak yang berani menerbitkan PERDA anti rokok. Kalaupun ada pelaksanaannya tumpul seperti di Jakarta. Baru sekali diadakan razia terhadap perokok, itupun di sekitar terminal Blok M, bukan di gedung DPR. Mereka kemungkinan besar juga tidak mau meneliti kebenaran data2 yg disampaikan para pengusaha rokok. Lha kalau rapat aja bolos melulu, apalagi baca report dan cek data ke lapangan? Daripada menunggu DPR yang gak jelas, lebih baik mulai dari diri sendiri dan dari para pemimpin. Start from within, start from the top.

Untuk itu ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

1) mulailah dengan diri sendiri untuk TIDAK merokok, yang sudah keburu mulai mbok jangan diteruskan. Termasuk saya lihat (maaf) para pemuka agama banyak yang doyan rokok. Maaf, uang rokoknya juga dari umat tha ya? Kalau pada sakit akibat jadi perokok berat, yang ngurusin juga umat. Lebih baik dana yang ada dipakai untuk membantu karya sosial yang lain.
Ehm, tapi kalau masih ada pemuka agama yang ingin merokok, monggo saja asal di kamar sendiri barangkali ya? Tentunya perlu jadi teladan bagi umat terlebih dulu sebelum meminta orang lain untuk berhenti merokok.

2) Berikan ruang terbatas bagi yang merokok. Kalau bisa waktu yang terbatas.
Di Jakarta setiap gedung wajib menyediakan ruang bagi perokok. Biasanya lantai paling bawah, atau malah di lobby luar. Sehingga bagi perokok yang tinggal di lantai atas malas juga sering2 harus turun ke lantai bawah untuk merokok karena pasti pekerjaan terbengkalai. Halaman tempat ibadahpun harus steril rokok, tidak tergantung jam dan hari ibadah. Dirumah anda bisa jadi daerah bebas rokok, kecuali dekat bak sampah atau pintu pagar (kalau tega).

3) kumpulkan jatah rokok anda harian dan anda akan kaget bahwa jumlahnya cukup banyak untuk bisa membantu yang lain. Di saat sosialisasi CU (Credit Union), pos inilah yang paling terasa bisa menambah jatah tabungan selain pemakaian pulsa yang dirasa tidak perlu. Continue reading



Sekolah Gratis: Yang Lain Bisa, Kalau (kita) Mau Pasti Bisa by ratna ariani
September 11, 2008, 5:57 am
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Di banyak negara maju sebagian besar memberikan pendidikan gratis bagi warga negaranya, bahkan yang memiliki PR (Permanent Resident) pun dapat mengirimkan anaknya ke berbagai sekolah negeri milik pemerintah. Gratis termasuk sampai buku-buku bahkan ada bis sekolahnya segala. Di Jerman, beberapa universitas negeri bahkan memberi kesempatan pada orang asing ikut kuliah disana, gratis tanpa ikatan apa-apa. Tinggal menanggung biaya hidup dan asuransi selama bersekolah disana. Tentunya semua ada biayanya selain infrastruktur juga untuk operasional sekolahnya. Bagaimana mereka bisa melakukannya? Semua bisa dilakukan karena para warga negara melakukan kewajibannya dalam membayar pajak. Pajak penghasilan diluar negeri memang tinggi, apa saja  bisa kena pajak. Tapi akhirnya manfaatnya kembali kepada warganegara. Jaminan sosial (Social Security) sangat tinggi disana, selain pendidikan bagi anak-anak, juga ada santunan bagi mereka yang tidak punya pekerjaan, baik karena PHK atau karena sakit. Fasilitas untuk para lansia dan orang cacad juga maksimal karena menjadi tanggungan negara. Kembali ke masalah pendidikan di Indonesia, seharusnya dengan anggaran 20% dari APBN (224 T), begitu banyak hal bisa dilakukan oleh pemerintah.Apalagi kalau setiap warga negara Indonesia melakukan kewajibannya membayar pajak, wah lebih heboh. Tantangannya: bagaimana dengan realisasi pelaksanaannya?

Menanggapi pertanyaan mbak Ayuliana mengenai kemungkinan sekolah gratis, sebenarnya ya tidak gratis dalam arti tidak butuh uang dalam penyelenggaraannya. Tapi mungkin yang dimaksud adalah orang tua murid (rakyat) tidak dibebani lagi dengan berbagai uang dan pungutan untuk kebutuhan sekolah anak. Paling tidak sekolah-sekolah negeri yang dikelola pemerintah bisa memberikan jasa pendidikan terbaik bagi rakyatnya. Hal ini telah dibuktikan oleh Pemda Kabupaten Jembrana seperti yang disampaikan Prof Dr drg I Gede Winasa dalam wawancara yang dilakukan mas Dimas Nugroho. Jembrana ini termasuk kabupaten miskin di provinsi Bali, APBD nya terendah karena  tidak memiliki obyek pariwisata. Tapi dengan APBD terendah, mereka mampu memberikan yang terbaik bagi penduduknya. Gak cuma biaya pendidikan, buku paket, makan minum anak dan bis sekolah juga internet gratis di sekolah .. halaaah… ngiri deeeh… Ngomong-ngomong kalau mau bikin KTP baru di Jembrana nantinya bayar sekitar 1-2 juta an, kenapa? soalnya selain pendidikan, fasilitas kesehatan juga menjadi hak rakyat Jembrana… hiks… ngiri gak?

Sekarang ini kunjungan paling banyak di kabupaten Jembrana bukan kunjungan wisata, tapi studi banding yang dilakukan banyak pemda dari berbagai pelosok Indonesia. Semoga kesuksesan Jembrana menular ke wilayah lainnya di Indonesia.



Tuhan 9 cm by ratna ariani
August 29, 2008, 1:09 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

Urusan yang satu ini memang ribet. Sudah dibikin aturan bahkan perda sekalipun, tidak ada giginya, cuma jadi macan ompong. Para pejabat bahkan anggota DPR pun merokok diruang sidang. Mau dibikin fatwa MUI, apa ya bisa ? lha wong para pemuka agama apapun banyakyang ‘ngudut’ je.. Walhasil cuma berkesan memberi pesan : anak-anak jangan ngerokok dulu, nanti boleh…. Bahkan kalau iklan berbahasa arabdari Saudi ini pun ditempel di tempat ibadah mungkin ‘gak ngepek’ juga. Para perokok selalu punya alasan bahwa yang tidak merokokpun akhirnya mati juga. Ya memang, tapi para perokok lupa bahwa mereka meninggalkan pesan tidak tertulis pada pasangan dan anak-anaknya ” Hei aku sedang mempersiapkan kematian kita“.

Mau dilarang total, wah lebih heboh lagi. Pendapatan negara dari cukai rokok saja di tahun 2006 mencapai 52 trilliun, lebih dari tiga kali lipat royalti PT Freeport. Didalam indutri ini ada 6 juta tenaga kerja didalamnya. Kalau satu orang menanggung 3 mulut maka ada 24 juta perut tergantung di industri ini. Kalaupun industri rokok dalam negeri mengecil tapi import gak dilarang, sama saja lah, justru kita menghidupi tenaga kerja industri rokok dari malaysia, vietnam dsb. Bukan masalah mudah menciptakan lapangan kerja bagi 6 juta orangyang mayoritas minim ketrampilan. Maka kalau cuma melihat dari sisi ini para perokok makin senang dan berkampanye “mari merokok ramai-ramai karena kita menghidupi orang banyak”.

Disatu sisi data pendapatan negara ini juga harus dibandingkan dengan berapa besar akibat yang ditimbulkan dalam belanja negara dari dibakarnya 226milyar batang rokok. Fasilitas pengobatan kanker yang canggih harus diadakan di berbagai Rumah Sakit Daerah. Sekali perawatan kemoterapi di RSCM bisa habis 4 juta rupiah. Bea siswa pendidikan anak atau orang tua asuh keluarga miskin sebagai subsidi pengganti uang rokok; bandingkan nilai sebungkus rokok dengan uang SPP anak SD/SMP. Belum termasuk nyawa beberapa anak yang memilih gantung diri karena malu gak bisa bayar SPP. Belum lagi uangreceh di jalanan yang diberikan para pengemudi mobil mewah,cuma habis dibakar anak-anak. Mereka memilih menggelandang di jalan demi makan dan rokok daripada sekolah. Continue reading



Menolong Si Miskin: Antara Bantuan dan Pemberdayaan by ratna ariani
August 10, 2008, 8:32 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , ,

Bicara tentang definisi orang miskin bisa tidak berujung. Ada yang menggunakan tolok ukur UMR (Upah Minimum Regional) untuk memasukkan ke golongan miskin. WHO punya standard lain lagi, dengan melihat kebutuhan kalori perharinya. Bila tidak dapat memenuhi 2000 kalori per hari, termasuk golongan miskin. Ada lagi standar UNDP dengan menghitung kebutuhan standard dalam pemenuhan pangan, sandang dan papan sebesar $ 1 dan $ 2 per hari. Belum lagi antar Departemen bisa berbeda kriteria.

Maka jangan heran saat jumlah orang miskin di konfirmasikan menjelang pembagian BLT, maka tiap instansi memiliki angka yang berbeda. Belum lagi mobilitas orang miskin juga tinggi karena mereka mencari peruntungan yang lebih baik. Maka ada yang tidak tercatat, tidak punya kartu tapi jelas miskin. Tapi ada juga yang sebenarnya tidak masukkategori miskin, memilih menjadi ‘miskin’ agar bisa mendapatkan fasilitas dan keistimewaan sebagai orang miskin. Bahkan ada yang sengaja berpenampilan ‘miskin’ serta dilatih secara profesional agar menimbulkan iba orang-orang sekitarnya untuk memberi sedekah.

Grameen Bank memiliki kriteria tertentu dalam menentukan siapa yang berhak mendapatkan fasilitas pinjaman, Mereka yang tidak masukkategori ‘miskin’nya Grameen Bank dipersilahkan menghubungi institusi keuangan lainnya seperti bank dsb. Grameen Bank memberikan fasilitas untuk memberdayakan orang miskin untuk berani bangkitdan keluar dari kemiskinannya. Keberhasilan mereka senantiasa diukur dari kemampuan nasabahnya dalam meningkatkan kualitas hidup. Sehingga yang sudah tidak masuk kategori ‘miskn’ tidak berhak mendapat pelayanan Grameen Bank. Continue reading



Kabar Dari Waghete – Nabire by ratna ariani
July 22, 2008, 5:29 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Sejak akhir Mei romo Mardi Santosa SJ berkarya di waghete, sebuah desa di pedalaman Nabire. Saya mengenal romo Mardi yang sangat peduli dengan pertanian rakyat sejak di desa Danan Wonogiri yang sering kesulitan air. Berikut saya sertakan kabar bulan Juni lalu dari romo Mardi agar menjadi keprihatinan kita bersama serta membangun rasa solidaritas sebangsa dan setanah air.

Dear ibu Ratna sekeluarga,
Sekarang saya ditugaskan di pedalaman Papua, tepatnya di paroki Waghete. Belum ada listrik, telpon dan jalan aspal. Air saja kami harus puas dengan air hujan. Daerah amat dingin, dan tiap hari turun hujan. Untuk mencapai daerah ini dari kota Nabire bisa ditempuh dengan jalan darat. Dalam keadaan normal, mobil penumpang bisa mencapainya dalam 15-20 jam, sedang untuk angkutan barang bisa jauh lebih lama. Selain itu bisa juga ditempuh dengan menggunakan pesawat jenis twin otter atau pilatus, mendarat di kota Enarotali dan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan umum bisa mencapai tempat ini.

Sore ini saya tiba di Nabire, maka bisa kirim email. Saya turun untuk berobat, karena saya diserang sejenis kutu yang dalam bahasa setempat namanya DIDIPA. Kutunya kecil, keras, berwarna hitam dan meloncat kesana-kemari. Disemprot hit juga tidak mati. Luka yang ditinggalkan kemudian melepuh, terasa panas dan dari hari ke hari semakin besar. Tadi siang langsung ke dokter dan sudah mendapatkan obatnya. Binatang ini munculnya pada musim-musim tertentu, dan sekarang sedang akan mewabah. Semoga segera mendapat penanganan dari puskesmas. Sebenarnya saya ingin menggunakan transportasi darat, namun karena jalan yang menghubungkan Paniai dsk (termasuk Waghete) dengan Nabire terputus sejak berapa waktu yang lalu, maka arus transportasi barang dan manusia melalui jalan darat amat terganggu. Truk-truk banyak menumpuk di jalan yang rusak, dan bisa lebih dari dua minggu menunggu untuk bisa lewat. Tak pelak lagi di beberapa daerah seperti Enarotali, Waghete, Moenamani, Eupoto, dll terjadi kelangkaan barang-barang kebutuhan pokok seperti: sembako, bensin, minyak tanah, dll. Khusus di Waghete, sudah lima hari ini tidak ada lagi beras dan bensin, sementara barang-barang kebutuhan yang lain semakin menipis. Continue reading