Saatnya HATI NURANI bicara


Guru Mogok di Paniai….Biasa ? by ratna ariani
October 12, 2008, 12:10 am
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Email dari seorang guru di Nabire ini menuntut keprihatinan mendalam bagi pendidikan di ujung timur Indonesia. Semakin besarnya jarak ke pusat, semakin besar jurang antara pusat – daerah membuat apa yang terjadi disana, tidak ada dampaknya sama sekali di antara gedung bertingkat di Jakarta.Tidak heran kalau kualitas SDM generasi Indonesia yang dihasilkan nantinya akan sulit untuk membuat daerah-daerah itu bersaing di tingkat nasional apalagi internasional. Walhasil, orang-orang pusat dan elit politik semakin menggurita dan keinginan separasi menjadi semakin menumpuk.(RA)

BERITA TERKINI:  dari kabupaten Paniai (termasuk Waghete) – PAPUA
Hari ini sudah memasuki hari ke 5 di mana guru-guru di seluruh sekolah (7 TK, 151 SD, 78 SMP, lebih dari 35 SMU/SMK) se kabupaten Paniai mogok mengajar (www.papuaposnabire.com). Mereka meliburkan sekolah dan pergi ke kota kabupaten dengan meninggalkan sekitar 14.000 siswa terbengkelai di tempat masing-masing (tentu para siswa juga senang). PGRI menuntut Kepala Dinas, Kepala Tata Usaha dan Bendahara Dinas P dan P mundur dari jabatannya. Juru bicara para demonstran yang berkumpul di Kantor Bupati mengatakan bahwa selama ini para guru merasa nasibya telah diabaikan dan tidak ada transparansi soal penggunaan uang yang menjadi hak guru dan sekolah.
Di Papua, cerita seperti ini konon bukan hal baru. Moment seperti ini sekaligus digunakan oleh para guru untuk melihat-lihat kota, menikmati dunia baru, melihat pesawat terbang, menelpon kerabat yang ada di kota (maklum di daerah mereka tidak ada signal hp apalagi tlp kabel) serta untuk menghabiskan gaji di kota sambil menikmati jalan-jalan aspal dan tinggal di rumah kerabat di Enarotali. Ada atau tidak ada demo, banyak para guru yang sudah biasa jarang mengajar di sekolah dalam jangka waktu lama. Murid-murid sudah terbiasa ditinggal para guru yang pergi tanpa tujuan berbulan-bulan. Bahkan ada seorang guru senior di paroki Euputo sudah 4 tahun tidak datang ke sekolah kecuali pada awal bulan untuk mengambil gaji. Tidak ada tindakan disiplin apapun dari pemerintah, karena hal seperti ini sudah biasa.
Seandainya kejadian seperti ini terjadi di kabupaten Semarang, Bekasi atau di kabupaten Sleman, pasti menjadi diskusi yang menarik dan panjang di milis, dan dari diskusi itu bahkan bisa dilahirkan pakar-pakar pendidikan atau setidaknya pakar pengamat masalah pendidikan. Orang akan sibuk mengumpulkan data yang bisa menjadi bahan skripsi atau bahan seminar yang menarik. Namun karena peristiwa ini terjadi di daerah nun jauh di pedalaman (Papua lagi … daerah tempat “jin buang anak” – istilah yang sering dipakai orang jakarta) apalah artinya?
Sekian sekilas info – salam dan doa [MS]



Kabar Dari Waghete – Nabire by ratna ariani
July 22, 2008, 5:29 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Sejak akhir Mei romo Mardi Santosa SJ berkarya di waghete, sebuah desa di pedalaman Nabire. Saya mengenal romo Mardi yang sangat peduli dengan pertanian rakyat sejak di desa Danan Wonogiri yang sering kesulitan air. Berikut saya sertakan kabar bulan Juni lalu dari romo Mardi agar menjadi keprihatinan kita bersama serta membangun rasa solidaritas sebangsa dan setanah air.

Dear ibu Ratna sekeluarga,
Sekarang saya ditugaskan di pedalaman Papua, tepatnya di paroki Waghete. Belum ada listrik, telpon dan jalan aspal. Air saja kami harus puas dengan air hujan. Daerah amat dingin, dan tiap hari turun hujan. Untuk mencapai daerah ini dari kota Nabire bisa ditempuh dengan jalan darat. Dalam keadaan normal, mobil penumpang bisa mencapainya dalam 15-20 jam, sedang untuk angkutan barang bisa jauh lebih lama. Selain itu bisa juga ditempuh dengan menggunakan pesawat jenis twin otter atau pilatus, mendarat di kota Enarotali dan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan umum bisa mencapai tempat ini.

Sore ini saya tiba di Nabire, maka bisa kirim email. Saya turun untuk berobat, karena saya diserang sejenis kutu yang dalam bahasa setempat namanya DIDIPA. Kutunya kecil, keras, berwarna hitam dan meloncat kesana-kemari. Disemprot hit juga tidak mati. Luka yang ditinggalkan kemudian melepuh, terasa panas dan dari hari ke hari semakin besar. Tadi siang langsung ke dokter dan sudah mendapatkan obatnya. Binatang ini munculnya pada musim-musim tertentu, dan sekarang sedang akan mewabah. Semoga segera mendapat penanganan dari puskesmas. Sebenarnya saya ingin menggunakan transportasi darat, namun karena jalan yang menghubungkan Paniai dsk (termasuk Waghete) dengan Nabire terputus sejak berapa waktu yang lalu, maka arus transportasi barang dan manusia melalui jalan darat amat terganggu. Truk-truk banyak menumpuk di jalan yang rusak, dan bisa lebih dari dua minggu menunggu untuk bisa lewat. Tak pelak lagi di beberapa daerah seperti Enarotali, Waghete, Moenamani, Eupoto, dll terjadi kelangkaan barang-barang kebutuhan pokok seperti: sembako, bensin, minyak tanah, dll. Khusus di Waghete, sudah lima hari ini tidak ada lagi beras dan bensin, sementara barang-barang kebutuhan yang lain semakin menipis. Continue reading