Saatnya HATI NURANI bicara


PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU by ratna ariani
January 23, 2009, 6:59 am
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Cinta adalah suatu misteri. Saya bagikan kisah yang saya dapat via email, benar tidaknya walahualam, karena penulisnya unknown. Moral of the story : Kita tentu kecewa saat menyadari bahwa cinta yang kita harapkan ternyata jauh dari kenyataan. Marilah kita lebih mengasihi daripada minta dikasihi dan dicintai sesering mungkin, tanpa menunggu semua menjadi terlambat. (RA)

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Continue reading



Perempuan: Be Your Self by ratna ariani
November 24, 2008, 1:28 am
Filed under: keluarga | Tags: , , , , ,

Sebagai seorang anak sulung dan perempuan, saat saya masih kecil sering membanding-banding kan nama diantara teman-teman SD. Saat itu sekolah kami perempuan semuanya. Banyak teman menggunakan nama keluarga, tentunya nama ayahnya di belakang namanya. Kedengaran keren betul buat saya. Saya sempat ngiri juga, namaku kok gak dikasih embel-embel nama bapak ya? Apa bapak malu punya anak aku ya, karena waktu itu adikku 5 laki-laki semua. Jangan-jangan… aku bukan anak bapak. Halaaah… namanya juga pikiran anak-anak.

Tapi sungguh, pikiran ini sempat saya ambil serius bahkan minta bukti akte kelahiran ke ibu saya, hanya untuk membuktikan saya anak sah bapak-ibu. Bapak cuma mengatakan, ada atau tidak ada nama bapak, kamu tetap anak kami. Just be yourself, jadilah dirimu sendiri. Saya manggut-manggut tapi gak mengerti, cuma legaaa… ternyata aku anak sah kok. Ih sensi bener ya?

Hal menarik terjadi juga saat sudah menikah, banyak teman berganti nama dengan memasang nama suaminya. Duh, kayaknya gagah bener melihatnya ya. Ny Bambang Purnomo (contoh lho). Iya lah mungkin bagi mereka penting banget memberi tanda “sudah menikah” ya. Saya sendiri bukannya gak bangga dengan suami, tapi rasanya gak perlu amat merubah nama di KTP or kartu nama dengan nama suami. I am what I am laah..

Begitu para ibu ini mengantar anak-anak kesekolah, maka nama para ibu menghilang tiba-tiba. Gak penting lagi karena berubah jadi mama Sekar, mama Adi, mama Joni, pokoknya mamanya anak-anak di sekolah deh. Sehingga kalau ketemu saat terima raport pun kita gak inget (juga gak tahu) siapa nama sebenarnya para ibu-ibu ini.

Rupanya tradisi mengganti nama perempuan dengan menambah nama keluarga (fam), lalu ganti dengan suami, tidak hanya di budaya timur. Di negara barat pun demikian, saat mudanya Sarah John, begitu menikah berubah jadi Mrs James. Hilang lah nama si perempuan. Gak penting ? Continue reading



SAYA INGIN SEPERTI AYAH by ratna ariani
October 20, 2008, 5:43 pm
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka……

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana.

Di situlah awal pembicaraan ‘menyimpang’ dimulai.

Ia mengeluh, “Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.”

“Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya.
“Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”

“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika. Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya, “Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?”
“Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.” Continue reading



Life Begins @ 40: Antara Michele Obama dan Sarah Pallin by ratna ariani
September 4, 2008, 3:58 pm
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Refleksi Perempuan Usia 40-an (email dari seorang kawan yang barusan berulang tahun, setujukah?)

Jadi, secara resmi usiaku 44 tahun. Usia yang tadinya aku anggap sudah menua tapi setelah mengikuti dengan cermat pilpres di AS dan mendengarkan pidato dua perempuan yang hebat Michelle Obama (calon ibu negara Partai Demokrat) dan Sarah Palin (kandidat wakil presiden partai Republik) yang keduanya berumur 44 tahun, maka, aku beranggapan tidak ada kata “tua” yang ada adalah kata “matang”. Michelle dan Sarah memang perempuan matang. Matang pengalaman dan matang kehidupan membuat mereka menjadi perempuan yang solid.

Orang mengatakan perempuan yang memasuki umur 40-an tahun, hidupnya terus mengalami “down hill”. Memory sedikit menurun, pipi dan pantat melorot, buah dada mengendur dan aktifitas menjadi rutinitas. Masa-masa yang membosankan. Apalagi pada umur-umur seperti inilah teman-teman perempuan di lingkungan arisan atau pengajian akan selalu menawarkan baju yang tertutup dan kadang kerudung yang menutup rambut, tak ada lagi yang menawarkan rok mini apalagi tank top. Kosa kata pun terbatas. Tak sadar obrolan kepada anak-anak gadisnya dimulai selalu dengan “dulu…mama begini dan begitu”, yang membuat anak-anak perempuan kita bete. Acara liburanpun jauh dari kesan avanturir, brosur-brosur pantai Bali atau night club Bangkok diganti dengan umroh ke tanah suci.

Perempuan umur 40-an memang terjepit. Sebab ia belum sampai pada usia menimang-nimang cucu di usia 50-an, karena baru saja lepas lelah dari ganti popok dan mengantar anak-anak sekolah di usia 30-an. Ia belum bisa disebut nenek centil, sebab baru saja usai jadi ibu yang terengah-engah.
Jadi, usia 40-an ada pada masa transisi. Tugasnya belum sepenuhnya berakhir karena anak-anak dalam usia yang antara masih dan tidak membutuhkannya, anak-anak remaja yang membawanya turun-naik “roller coaster”, membuat jantungnya terus berdebar-debar. Continue reading