Saatnya HATI NURANI bicara


Sahabat Wanita by ratna ariani
December 14, 2008, 8:31 am
Filed under: artikel, keluarga | Tags: , , ,
10092008005Saya menerima email tentang pentingnya memiliki sahabat wanita bagi setiap perempuan. Saya bersyukur dikelilingi banyak sahabat wanita yang saya jumpai sejak masa kecil, saat sekolah dan kuliah bahkan sampai menikah dan bekerja; yang sampai sekarang masih menjalin hubungan lewat berbagai cara. Bapak Ibu sudah tidak ada, tx God for sending them around me, kita menangis dan tertawa sampai tumbuh besar dan menjadi tua bersama-sama. I praise Lord for the friendship ! (RA)
Pada suatu hari, seorang wanita muda yang baru saja menikah mengunjungi ibunya. Mereka duduk di sebuah sofa dan menikmati segelas air teh dingin.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang mengenai kehidupan, pernikahan, tanggung jawab dalam hidup serta kewajiban, sang ibu dengan perlahan menaruh sebongkah es batu ke dalam gelasnya dan menatap wajah anak perempuannya.

“Jangan lupakan sahabat-sahabat wanitamu.” nasihatnya, sambil mengaduk-ngaduk daun teh di bawah gelasnya.

“Mereka akan menjadi orang yang penting bagimu ketika usiamu makin tua. Tidak peduli seberapa dalam kau mencintai suamimu, seberapa banyak anak-anak yang kau miliki, kau masih tetap harus memiliki sahabat wanita. Ingatlah untuk berjalan-jalan bersama mereka, melakukan hal bersama-sama dengan mereka. Dan ingat bahwa mereka bukan hanya sekedar sahabat wanitamu, tetapi mereka akan menjadi saudara, anak dan yang lainnya. Kau akan membutuhkan sosok wanita yang lain. Wanita selalu begitu.” Continue reading


DCS (Daftar Cerita Suka-duka) dari DCS-2: Keterwakilan Perempuan by ratna ariani
October 11, 2008, 1:58 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Ceritanya panjang kalau ditanya, mengapa perempuan harus diberi ‘previlege’ atau keistimewaan dalam jalurĀ  sistem kepartaian. Memang dari sononya perempuan tidak selalu dapat nomor satu atau setara dengan yang pria. Banyak cerita dan kisah tentang keputusan saat melahirkan, bayi perempuan lebih sering digugurkan kalau tidak dikucilkan karena membuat malu keluarga yang mengharapkan bayi laki-laki. Bila tidak ada biaya maka anak perempuan tidak harus kesekolah, toh nanti ke dapur juga. Perempuan tidak perlu bekerja karena mengurus anak dan dapur, padahal mahal sekali biaya hidup di kota besar kalau hanya mengandalkan single income. Tingginya jumlah kematian bayi terjadi akibat rendahnya gizi ibu hamil. Dari data BKKBN 2004, ada 15,700 ibu meninggal selam proses kehamilan atau kelhiran. Dengan kata lain setiap 35 menit seorang ibu hamil meninggal di Indonesia. Fakta tersebut menunjukkan lemahnya proteksi perempuan untuk tetap survive

Disisi belahan dunia lain, pengalaman demokrasiĀ  menunjukkan bahwa ada korelasi kuat antara keterwakilan perempuan dalam legislatif terhadap jiwa produk undang-undang yang dihasilkannya. Hal ini juga terjadi di pihak eksekutif dan yudikatif: ada sentuhan feminin dan sapaan kepada mereka yang tergolong lemah dan tersingkir; khususnya dalam hal perundangan di bidang pendidikan, kesehatan, jaminan sosial dan dunia wirausaha. Banyak negara yang memiliki jaminan sosial tinggi dan GDB (Gross Domestic Bruto) tinggi dan korupsi kecil, ternyata memiliki prosentasi wanita cukup tinggi di jajaran pengambil keputusan seperti di negara-negara skandinavia. Continue reading



Life Begins @ 40: Antara Michele Obama dan Sarah Pallin by ratna ariani
September 4, 2008, 3:58 pm
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Refleksi Perempuan Usia 40-an (email dari seorang kawan yang barusan berulang tahun, setujukah?)

Jadi, secara resmi usiaku 44 tahun. Usia yang tadinya aku anggap sudah menua tapi setelah mengikuti dengan cermat pilpres di AS dan mendengarkan pidato dua perempuan yang hebat Michelle Obama (calon ibu negara Partai Demokrat) dan Sarah Palin (kandidat wakil presiden partai Republik) yang keduanya berumur 44 tahun, maka, aku beranggapan tidak ada kata “tua” yang ada adalah kata “matang”. Michelle dan Sarah memang perempuan matang. Matang pengalaman dan matang kehidupan membuat mereka menjadi perempuan yang solid.

Orang mengatakan perempuan yang memasuki umur 40-an tahun, hidupnya terus mengalami “down hill”. Memory sedikit menurun, pipi dan pantat melorot, buah dada mengendur dan aktifitas menjadi rutinitas. Masa-masa yang membosankan. Apalagi pada umur-umur seperti inilah teman-teman perempuan di lingkungan arisan atau pengajian akan selalu menawarkan baju yang tertutup dan kadang kerudung yang menutup rambut, tak ada lagi yang menawarkan rok mini apalagi tank top. Kosa kata pun terbatas. Tak sadar obrolan kepada anak-anak gadisnya dimulai selalu dengan “dulu…mama begini dan begitu”, yang membuat anak-anak perempuan kita bete. Acara liburanpun jauh dari kesan avanturir, brosur-brosur pantai Bali atau night club Bangkok diganti dengan umroh ke tanah suci.

Perempuan umur 40-an memang terjepit. Sebab ia belum sampai pada usia menimang-nimang cucu di usia 50-an, karena baru saja lepas lelah dari ganti popok dan mengantar anak-anak sekolah di usia 30-an. Ia belum bisa disebut nenek centil, sebab baru saja usai jadi ibu yang terengah-engah.
Jadi, usia 40-an ada pada masa transisi. Tugasnya belum sepenuhnya berakhir karena anak-anak dalam usia yang antara masih dan tidak membutuhkannya, anak-anak remaja yang membawanya turun-naik “roller coaster”, membuat jantungnya terus berdebar-debar. Continue reading



Ktut Tantri: Perempuan Pejuang Indonesia yang Bukan Indonesia by ratna ariani
August 17, 2008, 5:22 am
Filed under: resensi buku | Tags: , , , , , ,

K’tut Tantri merupakan penulis dari buku yang merupakan biografinya .
Pertama kali terbit 1960 dengan judul “Revolt in Paradise,” yang kemudian diterjemahkan dalam edisi Indonesia menjadi “Revolusi di Nusa Damai.” Sebuah otobiografi yang sudah diterjemahkan lebih dari 12 bahasa. Dalam penulisannya buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : Melanglang Buana, Firdaus Yang Hilang, Berjuang Demi Kemerdekaan.
Perempuan bernama asli Muriel Pearson ini merupakan warga negara Amerika Serikat kelahiran Inggris, seorang seniman yang suatu siang di tahun 1932 menonton film, “Bali-The Last Paradise” di Hollywood. Begitu terkesannya, dia langsung jatuh cinta dengan Bali dan bertekad memulai hidup sebagai artis bohemian di sana.

Wanita ini telah menganggap bahwa Indonesia adalah tanah airnya. di bilang pejuang karena Ia rela berkorban ikut perang kemerdekaan di tahun 1945. di bilang Intelegent, karena banyak perannya ia sebagai spion untuk kemerdekaan Indonesia, bahkan dengan bantuannya ia bisa menyelundupkan senjata untuk membantu Tentara Indonesia.
Bagian pertama buku ini menceritakan kisah saat Ia menjual seluruh hartanya dan rela menempuh perjalanan ribuan mil dengan kapal, menuju Batavia.
Kisah perjalanan dia yang dimulai dengan mengendarai mengendarai mobil seorang diri menyusuri jalan di pulau Jawa yang gelap dan rawan dengan ‘begal’ atau perampokan. Beruntung ia bertemu dengan Pito, seorang anak kecil yang menjadi penunjuk jalannya menuju pulau dewata, Bali. Agaknya jalan kehidupannya sudah ditentukan oleh dewa-dewa Bali ketika bahan bakar mobilnya habis, dan berhenti di sebuah pura kerajaan di sana.

Diangkat jadi anak Raja Bali Continue reading